Terbaru

latest

Investasi Luar Negeri Langsung di Indonesia Dinaikkan Hingga 23 %

Kamis, 24 Januari 2013

/ by BW
Jakarta, SETARANEWS.com - Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan investasi asing langsung  (FDI) sebesar 23 persen tahun ini.

Investasi yang kuat tersebut didorong oleh sektor pertambangan, transportasi dan bahan kimia, menunjukkan pelaku usaha tidak memiliki kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan, korupsi dan infrastruktur yang lemah untuk mencari keuntungan dalam ekonomi tumbuh lebih dari 6 persen.

"Investor domestik dan di luar negeri telah merespon positif terhadap upaya untuk memperbaiki iklim investasi oleh pemerintah pusat dan daerah, insentif atas  investasi yang lebih menarik dan kampanye terpadu," kata Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal RI (BKPM) seperti yang dikutip dari Reuters.

Arus masuk asing untuk ekonomi G20 telah meningkat secara signifikan sejak Indonesia meraih kembali status investment grade dari dua lembaga rating tahun lalu. Investasi membuat peningkatan persentase sekitar 30 persen dari perekonomian G20.

Basri tidak memberikan rincian tentang perusahaan investasi. Pertambangan adalah sektor terbesar, meskipun serangkaian aturan baru yang kepemilikan asing terbatas dan ekspor terbatas. Freeport McMoran Copper & Gold Inc (FCX.N) adalah investor pertambangan terbesar yang ada.

Indonesia sangat ingin untuk menarik investasi di transportasi untuk meningkatkan infrastruktur tegang dari bandara ke kereta api, dan ingin investasi di bidang manufaktur kimia untuk mengubah minyak negara itu dan produksi gas alam menjadi produk bernilai tinggi.

Seperti dikutip dari Reuters, sebuah grup perusahaan kosmetik dunia L'Oreal (OREP.PA) asal Perancis, akan membuka pabrik terbesar secara global di Indonesia tahun ini. L'Oreal melihat penjualan di Indonesia tumbuh 30 persen tahun ini sebagai pertumbuhan terpesat se asia.

Kenaikan tajam dalam upah minimum juga menjadi perhatian bagi industri padat karya seperti tekstil, alas kaki dan perkebunan. Beberapa investor Korea Selatan telah ditutup pabrik untuk pindah ke negara lain setelah pemerintah menolak permintaan mereka untuk dikecualikan dari peraturan upah kenaikan, seperti dikutip dari  Jakarta Post.

Namun Basri mengatakan tidak ada perusahaan yang telah diberitahu bahwa mereka ingin menarik investasi dari Indonesia.

"Kami tidak mengharapkan investor asing untuk berhenti datang ke Indonesia, terutama mengingat kenyataan bahwa upgrade infrastruktur sedang berlangsung di negara itu selama tiga sampai lima tahun ke depan," kata Gundy Cahyadi, ekonom OCBC di Singapura.

"Apa yang lebih penting bagi negara adalah bahwa ada kebutuhan untuk terus meningkatkan produktivitas pekerja, terutama di sektor manufaktur, yang telah menjadi relatif terbelakang ke wilayah tersebut." ujarnya.

Editor : Kurniawan T Arief

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews