Responsive Ad Slot

Aktif Kembali, Himakom Adakan Kegiatan Bersama Calon Anggota

Tidak ada komentar

Sabtu, 28 Januari 2017

Unswagati, Setaranews.com – Setelah lama non aktif Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi (Himakom) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon pun kembali aktif. Sebagai awalan pengaktifan Himakom sendiri yaitu menghimpun anggota untuk menjadi pengurus dengan diadakannya Open Recruitment (Oprec).


Salah satu rangkaian Oprec, sebelum diadakannya pelantikan untuk para calon anggota yaitu mengadakan Sidang AD/ART dan Malam Keakraban (Makrab). Acara yang diadakan selama tiga hari pada 27-29 Januari 2017 ini dibagi di dua tempat. Hari pertama acara dilaksanakan di Kampus III Unswagati, menyusul hari kedua dan ketiga dilanjutkan di Balong Dalem, Kuningan, Jawa Barat.


Agenda yang dilaksanakan pada hari pertama meliputi pemberian materi yang disampaikan oleh Dekanat Fisip, dan dilanjut pembahasan AD/ART. Hari berikutnya adalah pelaksanaan Makrab di Balong Dalem. Alasan dibalik diadakannya Makrab sebelum pelantikan ialah guna menjalin ikatan emosional sehingga terjalin sistem kekeluargaan dalam organisasi antar para calon anggota baru dan pengurus.


“Kita ingin membuat teman-teman baru merasa ada sistem kekeluargaan dalam organisasi sehingga para pengurus bisa menilai kesungguhan calon anggota baru dalam berorganisasi,” ujar Syakur selaku Ketua Pelaksana pada Setaranews.com di Sekretariat Himakom, Kampus III Unswagati.


Peserta kegiatan tersebut berjumlah 25 calon anggota baru, padahal sebelumnya terdapat 33 mahasiswa yang mendaftarkan diri menjadi pengurus Himakom. Beberapa calon anggota yang tidak dapat hadir di hari pertama berencana untuk menyusul di hari selanjutnya, selebihnya diakui oleh Syakur tidak ada konfirmasi lebih lanjut.


Mengusung tema, “Membentuk Solidaritas Mahasiswa yang Bertanggungjawab dalam Mengemban Ekspresi Ideologi dan Kualitas Diri”, Tessa, Ketua Umum Himakom berharap kepada calon anggota agar menjadi generasi yang membawa himakom ke arah lebih baik dan dapat meningkatkan akreditasi Jurusannya dari C menjadi B.


“Saya sih berharap agar calon kepengurusan Himakom ini menjadi lebih baik dari kepengurusan periode sebelumnya, terlebih untuk meningkatkan akreditasi Ilkom (ilmu komunikasi) karena ini adalah PR bersama dari Himakom dan Jurusan Ilkom,” tutupnya. (Anisa/Fiqih)

Opini: We Are The Real United Kingdom

Tidak ada komentar

Jumat, 27 Januari 2017

Opini, Setaranews.com - Permasalahan peri-kehidupan dan peri-kemanusiaan hampir di segala lini sektor Bumi Pertiwi ini, membuat kita sebagai sebuah bangsa harus terus hidup dalam keterpurukan, lebih mirisnya yaitu kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Apakah kiranya penulis berlebihan, bisa jadi keterlaluan, apabila menganggap itu di era yang konon katanya modernitas dengan globalisasi – atau lebih tepatnya globanialisasi- dengan semua gemilang kecanggihan teknologi dan materialnya?

Memang benar adanya, dan patut diakui bahwa saat ini kita mengalami kemajuan, yang mungkin kebanyakan orang menilainya dengan ditandai berbagai macam pembangunan. Sayangnya, perubahan atau kemajuan tersebut hanya secara superfisial: dalam bentuk materialnya saja. Pada gaya, bentuk, rupa, pada busana, arsitektur, tempat belanja, moda bergerak, dan seterusnya. Secara kultural, kita diserbu budaya pop, hilanglah jati diri kita.

Semua kemajuan, perubahan, atau apapun itu namanya di era yang 'kekinian' ini belum pada hal yang paling esensial: sikap, cara pandang, mental dan karakter. Perubahan tersebut belum menyentuh bagian tersebut, di mana dimensi kultural terpendam dan diproduksi. Oleh karena itu, perubahan masyarakat kepulauan ini harus banyak berlangsung di wilayah kultural. Pertanyaannya, seberepa kuat kah keinginan kita untuk berubah? Sementara kita hanya bergantikan busana saja!

Apakah pemandangan pembangunan atau perubahan yang sering kita lihat dan anggap sebagai suatu kemajuan itu semua semata – mata memang ditujukan untuk masyarakat pada umumnya? Jawabannya hanya satu: TIDAK! Pembangunan sejatinya hanya untuk memfasilitasi para pemodal– yang mayoritas bangsa asing untuk melancarkan kepentingan mereka: ekspansi pasar, akuisisi perusahaan lokal, privatisasi BUMN dan akhirnya menguasai seluruh hajat hidup orang Indonesia. Maaf, lebih tepatnya merampok. Ya, kita dirampok. Dan terdiam, bahkan tepuk tangan, hingga ikut memeriahkan, melihat rumah kita sendiri dizarah habis - habisan.

Tolong sebutkan satu persatu sumber hajat hidup– dari mulai Sabang sampai Merauke yang kita kuasai sendiri secara keseluruhan demi tercapainya cita-cita yang termaktub dalam falsafah dasar bangsa ini? Jawabannya, lagi dan lagi: TIDAK! Kemudain pertanyaan selanjutnya, masih berbanggakah kalian sebagai orang – orang yang merasa, atau mengaku, ‘kekinian’ sebagai orang Inodonesia? Bangga dengan kendaraan canggihnya? Bangga dengan gadgetnya? Bangga dengan penampilannya? Bangga dengan gaya hidupnya? Lebih bangga dianggap ke’barat’an dari pada ke’indonesia’an? Lalu apalagi? Selanjutnya, silahkan sebutkan sendiri. Itu semua milik asing, kita hanya sebagai konsumen atau lebih tepatnya, sebagai tamu di negara sendiri.

Tumbuh di negara lumbung padi, makan padi, dari padi yang tidak dipanennya. Tumbuh di negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, lautnya pun masih asin, tapi maaf garamnya impor semua. Tumbuh di negara yang menggunakan kendaraan, rumah, gadget, pakaian, makanan, perhiasan, dari yang tak pernah di produksinya. Apakah bumi kita sangat tidak mampu untuk membuat itu semua? Apakah bangsa yang memiliki "Tanah Surga" yang "Gemah Ripah Loh Jinawi" itu cuman mitos? Ah, biar saja itu semua hanya menjadi kenangan, khayalan mungkin.

Semua yang kita miliki dan kenakan dari mulai sandang, pangan, dan papan, tentunya mungkin sangat dibanggakan sebagai adu gengsi – walaupun harus terpaksa kredit – sejatinya menguntungkan para pemodal yang sebetulnya bisa kita dapati secara Cuma-cuma. Satu syaratnya, yaitu ketika kita bisa kembali menguasai seluruh isi dan kandungan yang ada di bumi pertiwi ini.

Apakah bisa kita kembali merebutnya? Jawabannya tentu: SANGAT BISA! Ketika kita memahami lebih kedalam jati diri kita sebagai sebuah kesatuan bangsa yang tak terpisahkan. Memahami sejarah bangsa ini – bukan dari buku-buku sejarah dasar yang sudah dicampuradukan oleh orientalis untuk memecah belah bangsa ini. Sebuah bangsa yang diperebutkan oleh bangsa lain (karna kekayaannya). Sebuah bangsa yang ditakuti oleh bangsa lain karena tercatat dalam manuskrip kunonya akan menjadi bangsa penakluk (saudara kandung) bagi bangsa mereka (Yahudi-Israel).

***


Mari kita lebih dalam, terus lebih dalam membaca Indonesia sebagai sebuah negeri, sebuah bangsa, sebuah kesatuan. Sangat konyol apabila ada orang yang berpendapat bahwa Indonesia lahir begitu saja, tentu tidak sekonyong – konyong, ada proses berabad – abad, mungkin jutaan tahun lamanya. Bahkan tidak sedikit penelitian historis dan arkeologis menunjukan fakta bagaimana kesatuan yang ada, telah berlangsung bersamaan bersama sejarah polis-polis di Yunani, lebih tua dari bangsa yang bernama Inggris, Prancis bahkan Mesir sekalipun.

Disebutkan dalam Macropedia Britanica “Penduduk Delta sungai Merah secara esensial masih orang Indonesia”, siapa sangka peradaban kuno bangsa ini menyebar hampir ke 2/3 belahan dunia sampai pada Madagaskar, Guam dan Chamoro. Kenyataan ini, dipandang oleh pakar dan ilmuan, Madagaskar walaupun secara praktis mengidentifikasi diri ke Afrika, dan secara moderen ke Prancis, namun secara historis, geografis dan fisik 3000 mil ke Barat: Indonesia.

Berbagai macam bukti dan fakta hari demi hari semakin menerangkan asal muasal bangsa ini, tak salah apabila Ilmuan dan ahli semacam Denys Loambard dengan tegas dan sangat berani mengatakan, “ Sejak 1000 tahun SM Nusantara adalah kawasan budaya besar dengan hubungan maritim yang permanen.” Bahkan tak sedikit pula ahli yang mengatakan bahwa Indonesia atau bangsa melayu/Jawi sudah ada sejak dahulu, dan sebagai bangsa yang melahirkan bangsa-bangsa lain. Luar biasa!

Mungkin masih ada yang ingat lagu yang mengatakan “Nenek moyangku seorang pelaut”, sebagai seorang pelaut yang mengarungi lautan hingga ke berbagai belahan dunia tentu memahami betul ilmu perbintangan dan pelayaran serta teknologi perkapalan. Apalagi letak geografis Indonesia yang terletak pada garis ekuator yang diapit oleh dua samudra yang merupakan jalur perdagangan dunia, selain itu tanahnya yang paling subur di dunia. Tak salah kitanya, atau berlebihan, apabila Indonesia dulu sebagai pusat peradaban (pertemuan) dunia.

Indonesia atau nusantara kerap sekali dikait-kaitkan dengan benua atlantasi yang hilang menurut pandangan Plato. Benua Atlantis yaitu memiliki pengertian yang sama dengan “The Promised Land” (Tanah yang dijanjikan), yang sampai saat ini masih menjadi misteri, akan tetapi fakta-fakta historis -arkeologis sedikit demi sedikit mulai ditemukan dan mengarah ke Indonesia (walaupun kebanyakan literaturnya berada di barat), sampai sekarang masih dicari fakta – fakta tanah leluhur itu. Semua ini membuktikan betapa penasarannya bangsa-bangsa di luar kita terhadap silsilah bangsa kita (dari mulai masyarakat sampai isi kandungan buminya), bahkan lebih mahfum dari kita sendiri sebagai orang didalamnya.

Israel dan Amerika serikat memiliki website resmi berbahasa Indonesia, bahkan peta Indonesia. Mereka mengupdate data-data seputar bangsa ini setiap pekannya. Lalu ada kepentingan apa ketika Israel membangun pangkalan militer satu-satunya diluar Israel yaitu di Singapura yang moncong meriamnya mengarah Indonesia? Lalu, untuk apa AS membangun pula pangkalan militernya di Australia, yang moncong meriamnya semua mengarah ke Indonesia? Lalu benarkah Cina hanya memiliki kepentingan dagang di Indonesia? Ke tiga negara yang memiliki hak veto ini ada kepentingan apa dibalik itu semua? yaitu bersama-sama dan berkonspirasi untuk mengobrak-abrik, memecah belah, mengadu domba Indonesia, sebagai "TANAH LELUHUR" yang diramalkan sebagai bangsa yang akan menaklukan negara-negara super power/adidaya tersebut.

Maka mereka di luar bangsa kita tak akan rela membiarkan kita menjadi bengsa yang super power, yang pernah terjadi pada peradaban silam. Indonesia sebuah negeri yang peradabannya lebih tua dari Britaniya Raya, menurut majalah Time, kini tak lain seperti sekumpulan bandit yang saling penggal kepala, baku hantam cari kuasa, koruptor yang membabi buta. Segala keindahan, keramahan, budaya halus, kini seolah mitos belaka. Indonesia kini, sebuah bangsa yang tak dapat dipercaya, atau mahluk cacat yang mudah diperbudak karena kebodohannya.

***


Sebagai bangsa, harus diakui bahwa kita kehilangan jati diri. Tekanan yang begitu kuat dari bangsa asing dengan lobi-lobi zionisnya, membuat pemerintah kita tersirap oleh segala halusinasi yang ditawarkan olehnya. Alhasil, pemerintah dengan ringan melepas tanggung jawab alam dan konstitusinya, bisa dilihat ketika perguruan tinggi negeri diswadayakan, rumah sakit diswadanakan, usaha “bumi, tanah dan air” di swastakan. Rakyat kembali membayar kemahalannya. Rakyat terus – terusan mensubsidi. Terus, hingga mati berdiri. Dan mereka pengusaha dan penguasa bergolek santai dengan segala kemehawannya, sendiri. Menciderai perjuangan leluhur bangsa ini. Terkutuklah.

Keputusan para leluhur bangsa ini atau bapak-bapak pendiri bangsa kita dari mulai jaman kerajaan kuno, dan ketika sampai pada ide sumpah pemuda serta kemudian memproklamirkan negara kesatuan RI merupakan bukan suatu keputusan yang ‘mbalelo’ atau asal-asalan, itu merupakan ide yang sangat beralasan, melihat pada jati diri bangsa yang kemudian tertuang dalam falsafah dan UUD 45. Saat ini, tugas kita yaitu memandang kenyataan sejarah serta kultur kita – yang memiliki begitu banyak potensi penjelasan ketimbang potensi diabaikan- cara berpikir lebih memandang kedalam harus diutamakan dan dipertahankan, ketimbang memandang keluar yang sesungguhnya hanya fatamorgana, kalau tidak pun, kolonialistik.

Bangsa kita bukan bangsa yang bodoh, tapi dibodohkan (karena keturunan Bani Israel yang kebanyakan memeluk agama Islam, oleh karenanya ditakuti apabila memiliki kepintaran). Bangsa kita bukan bangsa yang miskin, tapi dimiskinkan. Bangsa kita bukan bangsa penakut, tapi ditakutkan. Bangsa kita merupakan bangsa yang besar dan segala kemajuan peradabannya di masa silam serta kekayaan yang terkandung di dalamnya (TANAH SURGA). Apakah kita bisa mnjadi bangsa besar? Jawabannya: SANGAT BISA!

Kita bisa kembali menjadi sebuah bangsa kesatuan yang besar ketika kita menjadi pribadi yang tahu akan jati diri bangsa, yang cerdas, bermoral, serta menguasai seluruh hajat hidup yang kita miliki. Itu semua telah dibuktikan oleh para leluhur kita, dan satu keyakinan yang kita miliki untuk meningkatkan rasa optimisme dan perbaikan diri yaitu, sejarah pasti akan kembali berulang. Kita sendiri yang menentukan, bukan bangsa asing.

Perlu diingat dan dicamkan baik-baik, “WE ARE THE REAL UNITED KINGDOM”, untuk itu banyak pihak yang tidak ingin kita kembali mencapai kejayaan. Sayangnya kita tak cukup berani, atau malu, atau terlanjur silau dengan ide-ide gemerlap (kapitalisme, globanialisasi, modernitas, liberalisme,demokrasi, dan apapun itu yang dibawa dari luar harus kita yakini bersama sifatnya yaitu IMPERIALISTIK), yang bangsa kita sendiri pernah berulang kali menolak dan melawannya, dan mencapai kejayaan. Sayang sekali.

Penulis: Epri Fahmi Aziz

Beragam Komentar Soal Kondisi Jalan Kota Cirebon

Tidak ada komentar

Kamis, 26 Januari 2017

Cirebon, Setaranews.com – Setelah Kota Cirebon dijuluki 'Kota Tilang' yang beberapa waktu silam sempat ramai, kini masyarakat sedang beramai-ramai membicarakan jalan yang mengalami kerusakan di Kota Cirebon, baik itu jalur di dalam kota maupun jalur pantura yang menghubungkan Cirebon dengan kota lain.

Seperti dilansir dari Radarcirebon.com, jalan yang mengalami kerusakan terlihat pada Jalan Brigjen Dharsono By Pass, sedikitnya terdapat 110 lubang. Seperti yang dikatakan oleh salah satu warga, Putri Dewi (23), ia mengatakan jalan semakin rusak akibat curah hujan yang tinggi. “Ya sejak musim hujan ini semakin parah. Jadi kalau pas hujan banyak yang hampir jatuh, motor oleng menghindari lubang,” katanya.

Jalan yang mengalami kerusakan lainnya terdapat di Jalan dr. Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon. Kerusakan pada jalur ini banyaknya lubang-lubang di sisi jalan mulai dari arah Gunungsari ke arah Jalan Pemuda. Wisnu Pratama (24), salah seorang warga, mempertanyakan kualitas aspal yang digunakan. “Apa karena kualitas aspalnya jelek atau karena anggaran sedikit sehingga jalan dibuat dengan dana minim dengan menggunakan bahan yang murah,” ujarnya.

Beragam komentar tentang kondisi jalan Kota Cirebon pun merambah hingga ke media sosial, khususnya di Instagram. Dalam postingan akun instagram @fokuscirebon, beberapa netizen menanggapi kondisi jalan yang rusak. Seperti yang dikatakan oleh akun @martin_freankstein yang berkomentar sambil mentautkan ke akun instagram Walikota Cirebon @nasrudinazis. “Nih pak @nasrudinazis dijalan cipto bahaya,” komentarnya dalam postingan, Selasa 25 Januari 2017.

Walikota Cirebon pun ikut memberikan komentar yang ditautkan kepadanya. “Ini terjadi bukan di Kota Cirebon hampir semua daerah karena intensitas curah hujan bertahap mba. Semua akan di atasi tapi bertahap kan jalan di Kota Cirebon lagi di hotmix dan di betonisasi, dan tetap waspada saat berkendara,” katanya menanggapi komentar @martin_freankstein.

Akun dengan nama @reivanovianti pun ikut berkomentar yang menanyakan perbaikan jalan yang dilakukan oleh Walikota Cirebon. “Loh bukannya proyek pembetulan jalan dari Walikota di Cirebon baru selesai ya? Wah berarti mesti ada proyek lagi haha,” katanya dalam komentar postingan @fokuscirebon.

Sampai berita ini dibuat, belum ada tanggapan dari Walikota Cirebon soal komentar netizen yang menanyakan perbaikan jalan.

Puisi: Puisi Tuan

Tidak ada komentar

Selasa, 24 Januari 2017

Hamba yang tertindas
Mengharuskan merangkak
Lewati rongga-rongga jala yang kau sebar

Hamba terperangkap di kampungmu
dalam perihnya kaca pecah di hancurkan atas kepercayaan

Tuan...
Sudihkah tanganmu merangkulku?
Hatimu dingin sejak kau memintaku datang menjadi kerangkamu

(Chikalahang, 18 Desember 2016)

Penulis
Wawas Wasniah
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews