Responsive Ad Slot

Mahasiswa Beronani atau Beraksi?

Tidak ada komentar

Minggu, 29 Mei 2016

Sebuah Cerminan Sejarah

Sejarah pasti berulang. Demikianlah pepatah kita sering mengungkapkan dengan lantang. Namun, dalam benak dan fikiran penulis sering bertanya – tanya, apakah benar? Bicara sejarah, baik atau buruk, kelam atau indah, bagaimanapun bentuknya, bisa menjadi sebuah cerminan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Sejarah telah membuktikan – bukan penulis yang mengatakan – bahwa peran dari kalangan menengah yang kebetulan bisa mengenyam pendidikan, dalam hal ini mahasiswa, mampu memberikan perubahan dan menciptakan sejarah melalui jalur pendidikan.  Lantas bagaimana peran mahasiswa saat ini? Silahkan jawab sendiri.

Kita semua sudah mahfum,  mulai dari masih ingusan sampai mengenal istilah percintaan, bahwa peran pendidikan begitu vital dalam membangun sebuah bangsa. Di buku – buku sejarah, dan dari dongeng guru – guru semasa di bangku sekolah, bahwa perlawanan Indonesia untuk bisa memerdekan diri dari cengkaraman penjajah salah satu cara yang paling efektif yaitu melalui jalur pendidikan. Masyarakat diberikan pendidikan, pemahaman, kecerdasan, dalam kerangka kemanusian.

Tak salah, apabila bapak pendidikan kita – penulis tak perlu lagi menyebutkannya – mengatakan dengan lantang bahwa sejatinya pendidikan merupakan sebuah proses untuk memanusiakan manusia. Dengan jalur pendidikan, setiap insan diajarkan untuk berfikir dan berjiwa merdeka. Sehingga dari situlah akan muncul nalar – nalar kritis, kreatifitas, dan semangat untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara

Peran kalangan menengah dalam semangat pendidikan inilah pada akhirnya bisa menciptakan beberapa momentum sejarah. Dari titik inilah peran dari pendidikan bisa dikatakan berhasil ketika mampu memberikan perubahan terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya. Lagi – lagi penulis bertanya, bagaimana pendidikan kita hari ini?  Bagaimana peran dari kaum atau insan terdidik kita? Suatu kemunduran zaman mungkin!

 Tanggung Jawab Moral Intelektual

Bicara soal pendidikan dan kaitannya dengan kalangan menengah sebagain insan intelektual, sebut saja mahasiswa, mari kita sejenak meluangkan waktu untuk merenungkannya. Merenungkan bukan untuk larut, melainkan untuk bangkit.   Jangan jauh – jauh dulu kepada peran dan fungsinya, dari katanya saja sudah membawa beban moral luar biasa. Coba bayangkan hanya ada satu-satunya kata ‘maha’ yang berada diawal selain ‘Maha-Esa’, yaitu hanya ‘Maha-siswa’. Dari nama saja posisi mahasiswa berada satu tingkat dibawah Tuhan. Bisa dikatakan wakil Tuhan di dunia ini berhubung tidak ada nabi, yaitu mahasiswa.

Kalau dulu, nabi ditugaskan untuk menyebarkan syiar – syiar rohaniah, agar pemeluknya mengabdi pada Tuhan dan bercinta-kasih kepada sesama umat . Nah, kalau sekarang mahasiswa ditugaskan untuk memberikan pendidikan dan mengabdi pada masyarakat. Tidak hanya itu, peran dan fungsinya sebagai kontrol sosial dan agen perubahan,akhirnya  mahasiswa mendapatkan tugas wajib lagi, yaitu untuk memerangi yang batil (pemerintah atau korporasi  zhalim), dan memperjuangkan yang hak (hak-hak manusia dan rakyat yang dirampas).

Tugas dan tanggung jawab tersebut semuanya dulu pernah dilakukan oleh para pendahulu kita, dan terbukti bisa melakukannya. Sejarah mencatatnya demikian. Mahasiswa hari ini?  Hanya jadi serpihan dari bagian  sejarah. Larut dalam kenangan atau euforia masa silam. Hanya pintar berdebat, dan mencaci dan menjatuhkan sesamanya. Gilirian ada yang gemar membaca dan berdiskusi, tapi tanpa aksi, sama saja beronani.  Untuk bisa terjun langsung dalam dinimaka sosial kemasyarakatan, tampaknya bagai mimpi disiang bolong. Mengkritisi keadaan sekitar, sepertinya bagai katak merindukan bulan.

Sebagai mahasiswa seperti yang kita ketahui bersama, posisinya sangat strategis. Bisa sebagai penyambung lidah antara rakyat dan penguasa. Sebagai kaum muda yang memiliki semangat, jiwa idealisme tinggi, tenaga dan fikirannya mumpuni untuk mempertahankan bahkan merebut harkat dan martabat bangsanya. Kehadirannya ditengah – tengah dinamikan kemasyarakatan merupakan fitrah yang tidak bisa tidak, sudah menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan. Seharusnya. Kalau sadar itu juga. Kalau tidak, cuci muka dulu biar terlihat segar!

Ditambah lagi, mahasiwa diberi kesempatan bisa mengenyam ilmu dan pengetahuan lebih dari kalangan masyarakat lainnya. Maka mahasiswa seharusnya bisa berperan dalam dunia pendidikan. Memberikan pencerdasan. Karena sejatinya  sebagai kaum intelektual, memiliki tanggung jawab moral untuk bisa memberikan sumbangsih baik tenaga atau fikiran dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Selalu hadir dalam persoalan masyarakat. Mahasiswa bisa dikatakan sebagai Outsidersnya. Seperti itulah tanggung jawab moral intelektual.

Bangkit Bergerak

Berbagai macam teori mengenai bagaimana seharusnya dunia pendidikan di Indonesia dijalankan supaya lebih baik sudah banyak berserakan di rak buku, bahkan sampai ke emperan kaki lima. Tak kalah, teori mengenai peran dan fungsi mahasiswapun bisa sering didengar diruang – ruang diskusi.  Buku – buku juga banyak. Semuanya bisa dilahap habis,  ditelan bulat – bulat juga silahkan. Tapi, sekali lagi, tanpa adanya kemauan untuk bisa hadir dalam dinamika kemasyarakatan semuanya omong kosong. Berhayal. Mimpi. Beronani bisa jadi.

Apa gunanya semua ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, apabila tidak berpengaruh terhadap lingkungan sekitar. Dimulai dari lingkungan sekitar, dari hal kecil. Manfaatkan semua yang dimiliki untuk memberikan pendidikan bagi sesama. Walaupun kecil, apabila berguna dan bermanfaat akan menjadi suatu kebanggan tersendiri. Karena hal paling penting dalam menciptakan sebuah perubahan yaitu ketika kita ada didalam dinamika perubahan itu sendiri. Pendahulu kita mencontohkan demikian.  Memanfaatkan ilmu dan pendidikan yang dimiliki dengan terjun langsung dalam hiruk pikuk keadaan;baik sosial, politik, ekonomi, maupun budaya.

Penulis berusaha mengimplementasikannya dengan membuat suatu wadah bagi masyarakat untuk bisa berkumpul, belajar, bahkan membangun kekuatan ekonomi. Diantaranya yaitu, perpustakaan jalan Niskala Senja, Forum Komunitas (Fokus), dan Usaha Bersama Komunitas (UBK). Semua wadah ini dibuat dalam bingkai pendidikan. Membangun karakter dan mentalitas sebagai seorang manusia yang bisa memanusiakan manusia. Pada akhirnya diharapkan bisa berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Apapun itu, yang bisa dikerjakan, laksanakanlah. Ingat, keadilan tidak semata – mata datang dari Tuhan. Keadilan harus diperjuangkan. Berjuang dengan cinta. Manfaatkan semaksimal mungkin potensi yang ada dalam jiwa mudamu, jiwa seorang mahasiswa, mentalitas pejuang. Sekarang bukan saatnya lagi untuk saling menjatuhkan, mencaci maki, bergaya adu gengsi. Karena ketercerai beraian kita lambat laut akan membunuh Indonesia. Bangsa ini sudah  tidak lagi melihat, atau merasakan sepak terjangmu. Siapapun itu, yang merasa sebagai orang berpendidikan, atau kaum intelektual. Bukannya begitu? Bangkit bergerak kawan!

Penulis: Epri Fahmi Aziz

Artikel ini pernah diikut sertakan dalam lomba menulis opini

yang diadakan oleh UKM P&K Unswagati

dan meraih juara sebagai opini terbaik.

 

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews