Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Suara Rakyat

berita

UGJ

UGJ

Cirebon

cirebon

Sastra

sastra

Opini

opini

Infografis

VIDEO

Video

News By Picture

mahasiswa

Teknologi

“AMANAT RAKYAT, AMANAT TUHAN” JANGAN TIDUR WAKTU SIDANG SOAL RAKYAT

Tidak ada komentar

Foto by Google

Opini, Setaranews.com - Catatan Sejarah menorehkan bahwa, bangsa Indonesia merdeka pada tahun 45. Sehingga demokrasi yang telah terjadi hari ini menjadi sebuah tolak ukur keberhasilan suatu bangsa dan negara tentang apa yang mereka di cita-citakannya. Hal tersebut termaktub dalam Pancasila aline ke-empat yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin Oleh Khikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan dan Perwakilan” artinya, Kekuasan terbesar yaitu tetap berada ditangan rakyat. Namun demikian. Pengaplikasian nilai Pancasila dalam Sila Ke-4 tersebut menjadikan indonesia dalam sistem Votting, bukan Musyawarah mufakat. Tidak hanya itu, wakil rakyat yang telah duduk dibangku megahnya seolah tidak ada beban terhadap para kontsituennya, sehingga rakyat banyak penyesalan atas apa yang telah mereka pilih. 

Konstitusi Negara menyebutkan pemilu merupakan manivestasi kedaulatan rakyat, bahwa diadakannya pemilu setiap lima tahunan ini bahkan diserentakkan dan sangat ditunggu-tunggu oleh berbagai pihak. Seperti warga negara yang menantikan agar terjadinya suatu perubahan, dan pergerakan ke arah yang lebih baik. Tidak hanya warga negara yang menantikan pemilu lima tahunan tersebut. Wakil rakyat yang sedang asyik pada saat itupun menaruh harapan kembali agar kontrak mereka dengan rakyat dapat diperpanjang lagi. 

Pemilu yang telah berakhir dibulan April tahun ini. Mereka baik incumbent maupun kandidat baru telah bertarung dalam menjual wibawa, reputasi, sampai popularitasnya terhadap masyarakat. Terlebih para incumbent yang seolah bagaimana caranya mereka agar tetap terpilih kembali, untuk kedua atau ketiga kalinya. Kedaulatan rakyat yang tercermin dalam pesta lima tahunan kemarin. Baik tingkat Pusat, Provinsi, sampai tingkat daerah. Mereka berjuang seolah paling benar, paling hebat, dan paling solutif ketika didepan para konstituennya. Dan seolah partai mereka adalah perahu paling kuat diantara perahu yang lainnya. Yang pada akhirnya pesta demokrasi lima tahunan ini banyak terjadi hal yang menyimpang dari aturaan perundang-undangan. Banyak sekali kasus sengketa pemilihan yang telah diselesaikan Mahkamah Konstitusi. Mulai money politic, Kecurangan dalam DPT, dan bahkan mash banyak perosalan pemilu kemarin yang selesai diranah Mahkamah Konstitusi. 

Sebanyak 50 Caleg terpilih/legislator periode 2019-2024 resmi mengucapkan sumpah atau janji mereka sebagai wakil rakyat kemarin itu. Mereka bersumpah kepada masing-masing Tuhan-Nya dan akan memperjuangkan kepentingan rakyat demi kepentingan bangsa dan negaranya. Rakyat yang sampai saat ini menjadi aktor utama dalam memilih para wakilnya tersebut, tentu kita sebagai rakyat berharap dan sangat menaruh harapan kepada para wakil rakyat yang baru saja dilantik ini jangan sampai mengkhianati dan melukai hati kami. 

Selain itu para wakil rakyat ini tentu harus selalu ingat dengan sumpah dan janji yang mereka ucapkan. Sumpah dan janji ini bukan baru kali ini saja dilakukan tetapi sudah pernah dilakukannya ketika periode sebelumnya bagi para Incumbent. “Dalam sumpah dan janjinya, mereka akan memenuhi kewajibannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat/Dewan Perwakilan Daerah dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selain itu mereka juga akan menjalankan kewajiban akan bekerja dengan sungguh-sungguh, demi tegaknya kehidupan demokrasi, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dan daerah daripada kepentingan pribadi, seseorang, dan golongan. Kemudian akan memperjuangkan aspirasi rakyat /daerah pilihannya yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia". Katanya, 

Jika dilihat dan ditelaah lebih dalam sumpah dan janji tersebut sangat-sangat berat untuk dipikul, karena mereka wajib untuk berlaku adil, bekerja bersungguh-sungguh demi kepentingan bangsa bukan demi kepentingan pribadi, golongan maupun partai politiknya. Yang pada akhirnya balas budi yang menjadi alat politik masa kini. Seolah perjuangan kemenangan kemarin adalah perjuangan yang harus dibayar oleh jagoannya yang terpilih itu, sehingga pada akhirnya wakli rakyat yang terpilih mengutamakan golongannya mengutamakan kepentingan rakyatnya, dan yang terjadi yaitu sebuah deal proyek dan akses para golongannya dipermudan demi kepentingan golongan. 

Gambaran yang terjadi pada periode sebelumnya. Hampir seluruh dari wakil rakyat gagal dalam mengemban amanah tersebut, mengapa demikian? Banyak persoalan dan permasalahan yang belum terselesaikan dengan tuntas. Kota dan kabupaten saya kira sama saja terkait kinerja. Semuanya hanya omong kosong belaka. Apalagi yang terjadi pada wakil rakyat periode sebelumnya. Terjadi hal yang benar-benar sangat konyol pada wakil rakyat Kabupaten Cirebon yaitu dengan tertangkapnya para wakil rakyat yang ketika itu sedang asyik bermain judi. Tidak hanya itu. Kota cirebon juga masih banyak PR yang harus diselesaikan, baik persoalan Tanah Cipto, DAK, mapun yang lainnya. 

Disini saya merasa prihatin atas perlakuan yang mereka perbuat selama itu. Padahal amanah yang mereka emban adalah mempunyai tanggung jawab dengan dua garis yang berbeda. Ungkapan kekesalan yang terjadi pada saat itu juga pernah hadir dalam sebuah lirik lagu musisi yang sangat melegenda ini. Ya, “Wakil Rakyat”. Sebuah lirik atau Lagu Cipt. Iwan Fals tersebut menggambarkan fakta yang terjadi di kota maupun kabupaten Cirebon pada saat ini. Dengan rentetan buruk kinerja anggota dewan periode sebelumnya rakyat tentu berharap lebih kepada pada wakil rakyat yang baru saja dilantik ini. Bukan malah berdampak semakin buruk akan kemajuan Cirebon. Sungguh menyakitkan hati rakyat ini, dimana para wakilnya sibuk dan ramai-ramai mencuri uang rakyatnya sendiri. Sementara pembangunan menuju kesejahteraan rakyat banyak selama ini tidak pernah terwujud. Yang terjadi Rakyat hanya dijadian sapi perah setiap lima tahunan sekali. 

Terlebih jangan sampai paradigma masyarakat itu berubah tentaNg singkatan DPRD, yang seharunya mempunyai makna wakil daripada rakyatnya. Dengan satu kesalahan dan kecerobohannya sehingga rakyat mengartikan bahwa DPRD yaitu “Dewan Poyek Rebutan Duit” mengapa demikian, karena dari tahun ke tahun sudah tak asing, bahwa wakil rakyat malah beralih fungsi dengan bermain proyek. Entah mega proyek, maupun persoalan perizinan proyek para investor. Hal tersebut terjadi pada periode sebelumnya. Dan berharap agar wakill rakyat diperiode saat ini benar-benar mengemban tugas dan bertanggung jawabnya kepada rakyat. Soal Tuhan biarkan itu urusan mereka. 

Dan lagi agar Wakil Rakyat Itu Seharusnya Benar-Benar Merakyat, Jangan Tidur Waktu Sidang Soal Rakyat. Wakil Rakyat Bukan Paduan Suara, Yang Hanya Tau Nyanyian Lagu Setuju.

Oleh : Kiki Riski. SN (Mahasiswa Tingkat Akhir UGJ Cirebon)

33 Orang Pengurus Baru UKM TKU Resmi Dilantik

Tidak ada komentar

UGJ, Setaranews.com - (02/09/2019) UKM Tutorial Keislaman Universitas Swadaya Gunung Jati (TKU) melaksanakan Pelantikan dan Musyawarah Kerja yang bertempat di Aula kampus 1 UGJ dengan tema Memperkokoh Semangat Perjuangan Guna Membentuk Moralitas Kader yang Amanah dan Bertanggung Jawab. 

Acara Pelantikan ini dihadiri oleh Agus Dimiyati sebagai Perwakilan dari jajaran Rektorat UGJ, Drs.H.Komarudin.M.Pd. sebagai Pembina Teknis dan para alumni dari UKM TKU sendiri . 

"Belum ada rencana untuk program kerja baru tetapi kami akan berusaha melaksanakan program kerja yang belum sempat terlaksana di periode kemarin agar lebih maksimal" pungkas Hendri selaku Ketua Umum UKM TKU yang baru saja dilantik .

Agus Dimiyati juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa beliau yakin TKU akan menjunjung tinggi islam yang Rahmatan Lil Alamin dan menjadi salah satu motto bagaimana gema keislaman ini bisa dilahirkan di dunia pendidikan khususnya di kampus kita .

"Semoga kedepannya UKM TKU bisa lebih baik lagi dan program kerja yang dilaksanakan bisa berdampak luas bukan hanya di lingkungan kampus tapi diluar kampus juga" ujar Indra Tamara selaku Ketua Umum Periode 2018-2019. 33 orang pengurus baru resmi dilantik, walaupun sebagian anggota berhalangan hadir namun pelantikan berjalan dengan khidmat. 

Reporter : Anisa Puse

Apakah Seseorang Dengan Masa Lalu Buruk Masih Pantas Untuk Dicintai?

Tidak ada komentar



Opini, Setaranews.com - Masa lalu tidak akan pernah terlepas dari perjalanan hidup seseorang. Jika kita mencintai seseorang pun kita harus menerima 'satu paket' dengan masa lalunya. Apakah kamu termasuk seseorang yang mempunyai masa lalu tidak mengenakan kemudian merasa tidak pantas untuk dicintai kembali? Jika iya, kamu harus paham bahwa seburuk apapun kamu di masa lalu, kamu berhak mempunyai masa depan yang bahagia, termasuk diterima dan dicintai dengan tulus.

Terlalu larut dalam kisah masa lalu tidak akan menjadikanmu seseorang yang lebih baik. Hal yang sebaiknya kamu lakukan adalah ikhlas sembari menjadikannya pelajaran untuk kehidupanmu selanjutnya. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tapi semua orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki masa depannya. 

Sehingga kamu tak perlu merasa rendah diri, jika ada seseorang yang tak mau bersamamu hanya karena masa lalumu. Dan lagi, dengan menolak menerima masa lalumu tak menjadikannya orang yang lebih baik darimu. Itu justru jadi tanda dia bukan orang yang bisa menerima kamu apa adanya dan ia tidak benar-benar tulus mencintaimu. Tak perlu khawatir, tidak bersama orang seperti ini kamu justru beruntung.

Kelak jika waktunya tiba, kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang menerima masa lalumu dengan lapang dada, yang tidak akan peduli seburuk apapun kamu dimasa lalu, dia akan menjadi pasangan yang memberimu motivasi terbesar agar menjalani hidup lebih baik lagi. 

Jangan pernah berpikir kamu tak lagi pantas dicintai. Kamu tak sendiri. Saya, mereka, dia, dan kita semua pernah melakukan kesalahan di masa lalu dan kami harus bangkit kembali karena masih banyak orang yang peduli dan men-support agar tidak terus-menerus terjabak dimasa lalu. Kamu pun bisa begitu.

-Anisa Puse-

Kecam Rasisme, Aliansi Mahasiswa Cirebon Gelar Aksi Solidaritas Kemanusiaan

Tidak ada komentar

Aliansi Mahasiswa Cirebon Gelar Aksi Solidaritas di Tugu Proklamasi
Foto by / Galih

Cirebon, setaranews.com - Aliansi Mahasiswa Cirebon melakukaan aksi di tugu proklamasi kemarin (21/8/2019) pukul 16.00 WIB. Aksi ini tergerak atas dasar solidaritas kemanusiaan karena beberapa waktu lalu telah terjadi tindak represifitas terhadap sodara sebangsa yang ada di Asrama Papua Surabaya. Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi tersebut mengaku ikut terluka karena adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat dan ormas. Perilaku rasial ini dianggap telah gagal melindungi warga Negara dari tindakan rasisme, diskriminasi, dan represif. 

Dalam aksi ini Ginanjar selaku juru bicara Aliansi Mahasiswa Cirebon tidak membenarkan adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat pada Mahasiswa Papua di Surabaya. “Aksi ini Merupakan solidaritas kemanusiaan karena tindakan kekerasan oleh aparat terhadap saudara kami, isunya itu karena perusakan bendera merah putih” tuturnya. 

Aliansi juga menolak segala bentuk penghinaan manusia atas manusia lain, dan menyatakan adili pelaku diskriminasi terhadap Mahasiswa Papua di Malang, Surabaya, dan Semarang.



Reporter : Galih

MAPALA GUNATI Memperkenalkan Sejarah dan Budaya Cirebon Melalui LLMB 2019

Tidak ada komentar

Para Peserta LLMB berfoto bersama RR. Alexandra W. sebelum pemberangkatan. 

Cirebon, Setaranews.com - Acara Puncak Diesnatalis Mahasiswa Pecinta Alam Gunung Jati (MAPALA GUNATI) ke-24 dilaksanakan pada Sabtu, 17 Agustus 2019 dengan menyelenggarakan Lomba Lintas Medan dan Budaya (LLMB) Tingkat Pelajar SMA/SMK/MA Se-Pulau Jawa yang memperebutkan Piala tetap dari Rektor UGJ, Walikota Cirebon dan Sultan Sepuh XIV (Keraton Kasepuhan Cirebon). 

Pelepasan peserta LLMB diresmikan oleh Rektor UGJ, Dr. Mukarto Siswoyo,M.Si. saat Upacara Hari Kemerdekaan di kampus utama UGJ dan pelepasan secara simbolis dengan pemotongan pita oleh RR. Alexandra W. di Keraton Kasepuhan Cirebon. Panjang Lintasan LLMB ini sejauh 5 km dengan garis start di Keraton Kasepuhan dan finish di Keraton Kanoman. 

"Alam itu tidak hanya pohon atau tanah, budaya juga merupakan kekayaan alam. Selain untuk berkompetisi, lomba ini juga bertujuan untuk memperkenalkan budaya dan sejarah Cirebon pada generasi muda" tutur Diki Koswara selaku Koordinator Kegiatan LLMB. Sebelum pemberangkatan, peserta dikenalkan sejarah Patilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati oleh Pemandu di Keraton Kasepuhan. 

"Lomba ini sangat bermanfaat sekali, selain menambah pengalaman, punya teman baru, jadi tahu tentang sejarah Cirebon juga karena kebetulan saya dari luar Cirebon" pungkas Dian sebagai peserta lomba dari SMAN 1 Jatiwangi. Acara puncak Diesnatalis MAPALA GUNATI tahun ini juga dimeriahkan Live Music yang mengundang beberapa Band indie sekaligus pengumuman juara LLMB bertempat di halaman parkir kampus utama UGJ. 

Reporter: Anisa Puse

Kemerdekaan Membaca Dirampas di Negeri yang Merdeka

Tidak ada komentar




Opini, Setaranews.com - Buku merupakan wadah tulisan yang didalamnya memuat berbagai ilmu pengetahuan, dimana ada catatan maka didalamnya ada sebuah sejarah yang tercatat. Lembar catatan yang termuat dalam buku merupakan hasil buah pikiran manusia, sebagaimana kodrat manusia itu memiliki akal dan fikiran.

Buah pemikiran yang tertuang dalam buku menciptakan budaya literasi pada manusia serta berdampak pada kehidupan sehari-hari, budaya tersebut membuat stimulus dalam berfikir dan melatih kemampuan berbicara serta menganalisis masalah dan menjadi solusi untuk permasalahan.

Akan tetapi fenomena yang terjadi hari ini di Indonesia yang penuh dengan masalah dan konflik, kebebasan membaca dibatasi dan hak setiap orang untuk bebas membaca dibatasi.

Karena Undang- undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban umum, padahal UU ini sudah digugat dan dicabut oleh Mahkamah Konstitusi pada tahun 2010. Sesuai keputusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010. Tidak ada hak apapun Tentara dan Aparatur Negara dan yang lain menyita buku meskipun dianggap terlarang.

Salah satu contohnya 2 orang dari Vespa literasi Purbolinggo digiring ke polsek setempat untuk diintrogasi karena kedapatan sedang melapak dan ada buku yang disinyalir berhaluan kiri, penyitaan yang melibatkan TNI ini termasuk kedalam tindakan melampaui wewenang karena militer bukanlah penegak Hukum, tercantum dalam UU NO. 34 Tahun 2004 tentang TNI. Selain itu telah terjadi pula perampasan buku yang berbau Marxis di toko buku Gramedia yang terletak di makasar oleh sekelompok Ormas, TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 melarang penyebaran ajaran atau ideologi komunisme, memang komunisme merupakan idiologi yang dilarang di karena troma G3SPKI yang berdarah darah begitupun tempat asalnya di Rusia dalam Revolusi Bolsevic. Akan tetapi apakah idiologi kiri semua nya berdarah darah sampai menelan korban ? 

Oleh karenanya, Negara seharusnya memahami bahwa Razia Buku adalah tindakan yang tidak di benarkan dan bertentangan dengan UU. Karena itu berhenti merampasan buku, karena buku adalah sumber dari segala ilmu, hentikan Intimidasi terhadap para Pegiat Literasi, karena Pegiat Literasi itu bergerak untuk membantu membangun kemajuan suatu bangsa atau membantu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan sukarela. Wujudkan kemerdekaan membaca menuju kemerdekaan berfikir bagi jiwa masyarakat Indonesia.

By : Galih

© all rights reserved
made with by setaranews