Responsive Ad Slot

Jengkel dengan Insomnia? Atasi dengan Beberapa Hal ini

Tidak ada komentar

Sabtu, 13 Juli 2019


Sumber gambar : Google

Cirebon, Setaranews.com - Apakah tadi kamu kesiangan datang ke kampus, gara-gara tidur berlarut malam? 
Insomnia bisa menyerang siapa saja. Tak terkecuali juga mahasiswa. Karena kebiasaan begadang, banyak pikiran atau tugas, seseorang lantas baru bisa tidur setelah lewat tengah malam atau bahkan menjelang pagi.

Nah kali ini saya akan kasih 7 tips dan trik untuk teman-teman yang susah tidur atau insomnia agar cepat tidur tanpa harus inget mantan, ups maksudnya tanpa obat tidur.

1. Hindari konsumsi kafein sebelum tidur
Yoi, kita sudah tidak asing lagi dengan rumor “minum kopi bisa menyebabkan susah tidur”, walaupun tidak semua orang bisa mengalami reaksinya. Tapi ada baiknya kita menghindari sesuatu yang mengandung kafein dimalam hari, karena bisa menyebabkan mata kita terjaga diwaktu malam.

2. Dengarkan musik yang membuat relaks
Dengarkan musik yang membuat kita relaks, dan tidak meningkatkan detak jantung. Jangan lupa untuk men-setting waktu durasi musik, agar secara otomatis mematikan musik ketika kita sudah tertidur.

3. Atur alarm dan jangan menundanya
Nah kita juga perlu untuk mengatur alarm. Alarm jam berapa kita bangun, khususnya di hari efektif kuliah. Kalau hari libur matiin aja sob biar tidur kita nyenyak wkwkwk. 

Berbicara tentang alarm, saya punya saran alarm yang efektif membuat kita bangun dan emosi, hihihi 

Saya sudah mencobanya dan lumayan, iya lumayan bikin emosi. Pasalnya kita diharuskan untuk menjawab pertanyaan matematika untuk mematikan alarm tersebut, tapi tenang teman-teman bisa kok mengatur kesulitannya. Yups nama aplikasinya adalah Maths Alarm. Teman-teman bisa mendapatkannya secara gratis di google playstore atau AppStore. 

4. Matikan lampu sebelum tidur
Tidur dengan lampu temaram atau lampu dimatikan bakal meningkatkan kualitas tidur Nah, waktu ideal untuk mematikan lampu adalah sejam sebelum tidur malam. 

5. Matikan semua gadget, komputer dan televisi
Satu jam sebelum tidur matikan semua gadget, komputer, dan televisi. Ini membuat kita lebih relaks dan mengantuk. Selain itu, fokus kita juga tak terpancing untuk melihat sosial media. Apalagi stalking – stalking medsos mantan. udah mending tidur aja, karena dalam tidur mimpi kita lebih indah timbang kenyataannya. Priben jeh malah curhat

6. Lakukanlah sesuatu!
Untuk membersihkan isi kepala, lakukanlah sesuatu yang kita sukai. Contohnya seperti menulis, membaca buku, menggambar, pokoknya hal apa saja yang kita sukai sekiranya bisa mengosongkan isi kepala kedalam bentuk ekspresi karya, supaya insomnia kita agak berfaedah sedikitlah. Yang penting kurangin game, karena game menyebabkan kecanduan yang ada malah kita enggak bisa tidur. Jika perlu, buat daftar tugas yang realistis dan dapat dicapai untuk hari berikutnya.

7. Jangan malas!
Mungkin yang terakir agak sedikit aneh, tapi ini benar. Kebanyakan dari mahasiswa menumpuk tugasnya, sehingga pas waktu deadline tiba mereka begadang sampai larut malam bahkan pagi untuk mengerjakan tugas. Dasar bambank kemarin kemana aja begitu kata emaknya. 

Aturan PPUM Rancu, Partai Pengusung 01 WO dari Penghitungan Suara

Tidak ada komentar

Jumat, 12 Juli 2019

Proses penghitungan suara / foto : Angga


UGJ, Setaranews.com - Pemilihan Raya (PEMIRA) UGJ 2019 yang menuai banyak polemik tersebut akhirnya sampai pada titik penghitungan suara yang dimulai pada pukul 21:00 WIB yang dilaksanakan di ruang 103 Fakultas Pertanian. 

Untuk hasil penghitungan suara sementara ini terhenti sampai pada perolehan dikampus 1 UGJ paslon 1 memiliki 234 suara dan paslon 2 memiliki 44 suara,Golput/Tidak sah terhitung 23 suara, untuk kampus 2 UGJ paslon 1 memiliki 07 suara, paslon 2 terhitung 42 suara dan suara tidak sah/golput memiliki 5 suara, kampus 3 UGJ untuk paslon 1 memiliki 72 suara, paslon 2 memiliki 504 suara dan suara tidak sah/golput 166 suara. Dan terakhir di kampus 4 UGJ terhitung untuk paslon 1 nmemiliki 40 suara, paslon 2 memiliki 131 suara dan suara tidak sah 25 suara. 

Alasan terhentinya penghitungan suara ini lantara pihak koalisi partai Garuda dan Paham yang mengusung paslon 1 itu memilih walk out (keluar) dari forum adapun beberapa alasan yang melatar belakangi partai tersebut keluar ialah “ada aturan yang tidak sesuai atau tidak jelas melalui surat suara yang di katakana SAH dan TIDAK SAH sesuai dalam istilah contohnya kalau di kampus 2 3 4 surat suara yang ada coretan selain angka pilihan di katakan tidak sah , sedangkan untuk kampus 1 di anggap sah “ ungkap pihak koalisi partai Garuda dan Paham. 

Koalisi partai Garuda dan Paham akan menggugat jika hasil tidak sesuai.” Kami akan menggugat jika hasil yang di harapkan tidak sesuai apa yang membuat hasil TAPI kalua hasil itu tidak sesuai tapi secara sehat ( tidak ada kecurangan ) kami tidak menggugat ” tutur Edi salah satu anggota partai Garuda. 

Sandiwara Akreditasi

Tidak ada komentar

Kamis, 11 Juli 2019

Kampus Utama Unswagati. Sumber dari unswagati.ac.id

Opini, Setaranews.com - Tiga program studi (prodi) Unswagati lolos akreditasi A oleh BAN-PT. Ilmu Hukum, Ilmu Administrasi Negara dan yang terbaru Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam proses huru-hara akreditasi ada "sandiwara" menarik yang luput dari khalayak mahasiswa. Bukan roman picisan ala sinetron atau komedi gagal ala slapstick. Tapi sandiwara akreditasi ala kampus yang sah-sah saja disebut berunsur manipulasi.

Memang sebelumnya sedang ramai menyoal akreditasi. Barangkali sebuah pencapaian yang membanggakan—setidaknya bagi lembaga dan Pak Rektor yang mempunyai cita-cita ingin menjadikan Unswagati sebagai "Harvard" dari Cirebon. Tapi sebagai mahasiswi yang sedang memasuki semester sembilan dan telah malang melintang terjebak di Kampus, rasa-rasanya adalah sebuah "kejanggalan" jikalau Kampus dapat meloloskan tiga prodinya tersebut. Harvard terlalu jauh untuk mimpi Pak Rektor—sebab kampus tersebut jelas nampak lebih "manusiawi" untuk para penghuninya. Perpustakaan, akses informasi, lahan, ruang terbuka hijau dan suasana akademik yang nyaman adalah bagian terkecil dari Kampus yang seharusnya menjadi "perhatian" bersama.

Tahun lalu dalam portal universitas, Prof. Ibnu—dekan Fakultas Hukum, ketika prodinya menerima akreditasi A. Ia sempat mengakui bahwa masih banyak visitasi yang "belum" maksimal seperti sarana, prasarana perkuliahan, kemahasiswaan, dukungan biaya riset dan pengabdian kepada masyarakat. Konon prodi Ilmu Hukum hanya unggul menyoal tenaga pengajar, dengan memiliki satu guru besar dan 12 doktor yang menjabat sebagai Lektor Kepala, Lektor dan Asisten Ahli. Dengan jumlah SDM demikian, dianggap lebih dari cukup oleh BAN-PT. Padahal semua yang "belum" maksimal menurut Pak Dekan memegang komposisi penilaian yang cukup besar pula, jika mengacu dari standar BAN-PT.

Jika ditelisik terdapat sekitar tujuh standar instrumen yang harus dipenuhi oleh prodi yang ingin melakukan akreditasi, yakni disebutkan sebagai berikut Standar I (Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi Pencapaian) yang berperan sebesar 2,62% dalam penilaian. Standar II (Tatapamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan, dan Penjamin Mutu) yang berperan sebesar 26,32%. Standar III (Mahasiswa dan Lulusan) sebesar 13,16%. Standar IV (SDM) sebesar 18,42%. Standar V (Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik) sebesar 7,89%. Standar VI (Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi) sebesar 18,42% dan terakhir Standar. VII (Penelitian, Pelayanan/Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama) sebesar 13,16%. Lebih jelas link sebagai berikut https://www.banpt.or.id/download_instrumen

Keriuhan akreditasi muncul kembali ketika prodi Pendidikan Bahasa Inggris berhasil menyusul Ilmu Hukum dan Ilmu Administrasi Negara. Gedung FKIP Bahasa Inggris misalnya, dalam proses menuju akreditasi, kalang kabut memperbaiki "fisik" gedung dengan cara mengecat ulang dan menghias tampilannya semenarik mungkin.

Lobi yang biasanya berantakan pun ditata dengan berbagai pot tumbuhan, dan di dekat pintu masuk dipasang sebuah screen televisi. Papan nomor ruangan kelas yang sudah memudar diganti baru; lebih jelas dan bagus. Tampak rapih, bersih, dan luar biasa berbeda. Sebab biasanya tiga tanaman di pelataran gedung saja sampai kering kerontang seperti tidak pernah dirawat dan disiram. Lantas, dari mana asalnya semua barang-barang "penghias" akreditasi tersebut?

Sekitar dua minggu sebelum penilaian akreditasi, mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris dihimbau untuk tidak datang ke Kampus—mencegah ditanya yang "macam-macam" oleh tim asesor. Pesan tersebut sempat beredar lama di whatsapp grup-grup kelas. Proses akreditasi nampaknya menyita semua unsur di prodi, walhasil jadwal PLP II (Pengenalan Lapangan Persekolahan) untuk mahasiswa tingkat tiga harus mundur jauh ke awal Agustus. Selama empat tahun menjadi mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris rasanya sudah kenyang menyaksikan semua "realitas" yang suram.

Bahkan di tengah gembar-gembor para dosen yang ingin menerapkan pembelajaran berbasis teknologi. Tapi menikmati wifi di Gedung FKIP Bahasa Inggris saja merupakan sesuatu yang langka. Rebutan proyektor acap kali jadi permasalahan yang menyebalkan, sementara sedikit sekali ruang kelas yang terpasang proyektor ketika semua dosen "menuntut" ingin menggunakannya. Ditambah fungsi perpustakaan hanya menjadi tempat "ngadem" dan "menyepi" tanpa dibarengi sumber belajar yang mumpuni.

Barangkali mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris masih lebih beruntung ketimbang mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Ekonomi dan Matematika yang nyumpel di Kampus II yang gedungnya tidak terlalu layak disebut "universitas" bahkan gedung sekolah dasar saja tidak sesempit dan sesumpek tersebut. Meskipun begitu rumornya Pendidikan Bahasa Indonesia percaya diri ingin menyusul Pendidikan Bahasa Inggris untuk meraih akreditasi A dari BAN-PT.

Setelah penilaian akreditasi usai, kampus berjalan semestinya, semua kembali pada realitasnya. Termasuk berbagai pot tanaman yang sempat terpasang di seluruh penjuru gedung, dan screen televisi di dinding. Semuanya menghilang 'bak sihir satu malam. Apakah hiasan-hiasan tersebut hanya "disewa" untuk sementara waktu? Jika memang demikian. Ciamik benar sandiwara akreditasi ala kampus—kampus biru yang konon kata Pak Rektor tidak usah ribut ingin jadi negeri, cukup menjadi swasta yang "berkualitas" saja.

Penulis: Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris

Mahasiswa UGJ Ramai-Ramai Datangi Ruangan Wakil Rektor 3

Tidak ada komentar

Rabu, 10 Juli 2019


Sumber : Google

UGJ, Setaranews.com - Aliansi Mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) mendatangi ruangan Wakil Rektor 3 untuk mempertanyakan tindak lanjut dari pihak Rektorat mengenai surat yang sudah mereka ajukan, Sore (10/7). Sebelumnya, Aliansi Mahasiswa UGJ telah mengirimkan surat permohonan kepada Rektor UGJ.

Alliansi mahasiswa UGJ yang terdiri dari beberapa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UGJ dan Mahasiswa Umum sebelumnya sudah mengirimkan surat kepada Rektor UGJ yang ditembuskan kepada Wakil Rektor 3 pada siang tadi (10/7). Dalam meminta pihak rektorat untuk menyelengarakan audiensi antara Mahasiswa, Panitia Pemilihan Umum (PPUM), Panitia Pengawal Pemilihan Umum (Panwaslu), Partai peserta dan pihak Rektorat yang akan membahas mengenai proses penyelangaraan Pemilihan Raya (Pemira) UGJ 2019. 

Didalam ruangan mereka tidak bisa menemui Bapak wakil Rektor 3 atau Bapak Biro Kemahasiswaan yang kebetulan sedang berhalangan hadir, sehingga para mahasiswa hanya bisa bertemu dengan salah satu staf dari Wakil Rektor 3 yang biasa dipanggil Mas Anom. 

Mas Anom menjelaskan mengenai maksud dan tujuan kedatangan mereka “tadi saya telah diberitahu oleh pak Wakil Rektor 3 bahwasannya audiensi itu akan di adakan besok pagi”. Kata mas Anom. 

Untuk lebih tepatnya audiensi akan diadakan pada pukul 09.00 WIB, bertempat di Ruang Rapat Rektor yang akan dihadiri PPUM, Panwaslu, Partai Peserta Pemira, Rektor UGJ dan tentunya aliansi mahasiswa yg mengajukan audiensi tersebut. 

Dengan akan dilaksanakannya audiensi tersebut menunda jadwal debat Kandidat Presiden dan Wakil presiden Mahsiswa sampai setelah audiensi tersebut terselenggarakan.


Reporter : Warman

Carut Marut Pemira 2019

Tidak ada komentar

Sumber : Google 

Pemilihan Raya 2019 atau dikenal dengan Pemira 2019 yang digadang-gadang akan dilaksanakan pada Kamis,11 Juli 2019 menuai banyak polemik besar, mulai dari pembentukan PPUM dan Panwaslu, Seleksi Partai Pemira dan seleksi Calon Presma dan wapresma, jadwal pelaksanaan Pemira 2019,Independensitas PPUM lalu terkait penyebaran informasi terkait Pemira 2019 sendiri.

Menanggapi polemik tersebut mahasiswa melakukan audiensi jilid pertama yang  dilaksanakan pada Jumat, 5 Juli 2019 yang kemudian menghasilkan keputusan bahwa kegitan Pemira dilaksanakan setelah PKKMB hal ini terlihat dilaman instagram resmi milik PPUM UGJ yang menyebarkan surat edaran berupa berita acara.

Untuk mengesahkan keputusan tersebut pihak PPUM menyelenggarakan audiensi jilid 2 dengan peserta partai pemira dan hasil audiensi tersebut bertolak belakang ( tidak satu suara ) dengan ausiensi jilid 1.

Atas dasar itu mahasiswa kembali menggugat pihak rektorat untuk diadakannya audiensi jilid 3 , Anom sebagai Staff Wakil Rektor 3 merujuk pada mandat dari Wakil Rektor 3 UGJ Ipik Permana mengatakan bahwa akan dilaksanakannya audiensi jilid 3 yang akan di hadiri oleh pihak Rektorat, PPUM, Panwaslu, Partai Pemira,dan seluruh mahasiswa Unswagati yang akan dilaksanakan esok hari pukul 09:00 wib.
" Untuk kegiatan Pemira ditunda sampai selesai audiensi yang akan dilaksanakan besok jam 09:00 pagi berdasarkan mandat dari Wakil Rektor 3." katanya diruangan Wakil Rektor 3.




Reporter : Felisa
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews