Opini: Mempertanyakan Pikiran Kritis Universitas

Tidak ada komentar

Rabu, 27 April 2016

Opini- MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) kini sudah digelar. Orentasi rezim pemerintah kini adalah pembangunan. Juga, pergeseran pola ekonomi berubah secepat kilat semenjak perkembangan tekonologi berbasis media sosial. Melalui perubahan semacam inilah publik dibuat reaktif dengan berbagai keriuhannya.

Kini, seolah-olah publik sedang mengalami kepanikan luar biasa. Promosi, pidato, jargon, dengan cepat diselenggarakan Universitas dan pemerintah sebagai bagian dari sosialisasi. Dengan doktrin wacana; ini adalah peluang.

Bahkan, publik seperti diharuskan berlari cepat melampaui cahaya untuk menyiapkan semuanya demi semata-mata agar publik tak tergilas dengan adanya MEA, pembangunan, dan perkembangan tekonologi yang kini menjadi bagian dari hidup. Dan, di antara semuanya kita sebagai bangsa Indonesia harus lebih cepat dan menjadi lebih unggul dibanding negara-negara lain.

Tersirat, tak ada yang keliru dengan semua itu. Tetapi, hal-hal di atas layaknya suatu yang sudah given. Tak bisa ditolak. Apalagi dikritisi. Itulah konsekuensi globalisasi. Publik harus terima. Suasana demikian yang menimbulkan pertanyaan, mengapa? Bahkan yang terjadi sebaliknya, banyak Univesitas mengamini tanpa lagi berpikir ulang, apa yang sebenarnya terjadi?

Fenomena MEA misalnya, disikapi dengan bagaimana visi Universitas menyiapkan tenaga handal yang mampu bersaing dengan tenaga-tenaga negara lainnya. Seolah-olah mahasiwa adalah komoditas lainnya seperti—layaknya produk mangga gincu yang dipasarkan pemerintah melalui program UMKM. Jadi, apa yang sebenarnya Indonesia tawarkan pada MEA? Apabila komoditas manusia yang menjadi konsep.

Melihat cara berpikir Universitas semacam ini tak elak menjadi pertanyaan, apa peran Universitas selain pantas disebut sebagai corong kekuasaan? Karena Univeritas menjadi media sosialisasi apa yang sedang coba pemerintah bangun. Dengan maksud, agar publik menerima ini dan bersikap yang hendaknya pemerintah inginkan. Jika demikian, pertanyaannya, di mana sikap kritis dan independensi Universitas?

Hal demikian lah yang menjadi kegelisahan. Bagaimana tidak. Universitas tanpa melakukan kajian ilimiah lantas mempromosikan MEA dengan berbagai jargon demagognya. Misalnya, tak memaparkan bagaimana sejarah MEA dibentuk, siapa aktor MEA, apa tujuan MEA, bagaimana mekanisme MEA, bagaimana securty MEA untuk melindungi lalu lintas barang dan tenaga manusia, bagaimana kondisi sosial politik negara-negara MEA, siapa aktor pasar dan objek pasar, apa yang menjadi keunggulan dan kekurangan Indonesia, danbagaiamana mengantisipasi dan merinci berbagai konsekuensinya? hal-hal seperti inilah yang absen dilakukan Universitas.

Tanpa ketajaman analisa dan pembongkaran suatu konsep bukan tidak mungkin kedepan hanya akan menimbulkan persoalan-persolan baru. Apalagi indikasi yang diedarkan hari ini adalah keuntungan bonus demografi. Sebatas melihat jumlah manusia. Bukan pada kapabilitas, kompetensi, dan kondisi realistis Indonesia di hadapan market MEA. Untuk bagaimana mengukur itu secara matematis. Tak sebatasbermodalkan kepedean. Hal-hal inilah yang tak banyakdipikirkan.

Sebagai contoh, pemabajakan kapal Indonesia di wilayah perairan Filipina oleh Abu Sayyap yang sekarang masih terjadi. Betapa perjanjian dengan Negara-negara MEA seperti Filipina, Indonesia tak memiliki hak untuk menginterversi. Padahal itu menyangkut nyawa dan perlindungan warga negara yang—seharusnya Indonesia berdaulat atas itu. Karena hal itu pun diakibatkan dari kondisi sosial politik Filiphina yang buruk.

MEA membuka kran ekonomi tapi mengkesampingan perlindungan dan jaminan keamanan sipil. Ini menandakan lemahnya perjanjian hukum di antara Negara-negara MEA. Sedangkan kita ketahui banyak di antara Negara-negara yang tergabung di MEA adalah negara yang non-demokrasi. Dengan berbagai gejolak sosial politik yang mengancam bagi aktivitas sipil. Dalam posisi ini, sebetulnya jelas Indoensiasangat dirugikan. Karena ini menyangkut jaminan keamanan lalu lintas barang dan manusia antar negara.

Ini adalah sedikit dari banyaknya persoalan MEA yang belum diketahui, ditambah dengan defisitnya kajian ilmiah dan ruang diskusi di Univesritas, jadi—sebetulnya patut diduga publik tak banyak mengetahui tentang MEA. Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri, di manakah ruang kritisismeUniversitas terhadap berbagai perubahan kebijakan dan konsep ekonomi itu? Apakah hilang diterpa bualan-bualan quote positif. Karena bagi sebagian orang, perilaku kritis disamakan dengan prilaku buruk. Tentu, jika demikianadanya, ini menjadi persoalan tersendiri di kalangan intelektual.

Tak berhenti di situ, karena paradigma sebagain  Univesitas mahasiswa adalah komoditas, pembangunan yang dilakukan pemerintah, seperti Kereta cepat, Jalan tol, Rekalamsi, dan infrasturktur-infrasturktur lainnya, diamini sebagai peluang untuk membuka lapangan pekerjaan. Tanpa melihat persoalan-persoalan yang akan dihadapinya. Seperti kerusakan ekositem alam, berpotensinya bisnis dan politik sebagai aktor pelanggaran HAM, karena persoalan pembebasan lahan dsb.

Sebagai contoh, bagaimana persoalan reklamasi dimulai dari Bali, Jakarta, Cirebon dan Makasar yang kini menghadapi gelombang penolakan yang besar bagi masyarakat adat dan setempat. Bagiamana kasus salim kancil yang dibunuh, penolakan Ibu-ibu rembang akan kehadiran perusahaan yang akan mengalola sumber penghidupannya, dan penolakan bongkar muat batu bara karena debunya berdampak terhadap kesahatan manusia.

Hal tersebut mestinya mejadi lampu kuning bagi Univesitas untuk berjarak dengan kekuasaan dan berdiri independet dalam bersikap. Untuk memberikan argumentasi dan jalan keluar lain. Menyodorkan pilihan-pilihan terhadap suatu kebijakan dan konsep ekonomi. Lebih dari itu, membantah modus pembangunan yang berdalih atas nama pertumbuhan ekonomi.

Sinyal inilah yang tak ditemukan oleh Universitas sebagai bagian dari lembaga yang memiliki tanggung jawab Tri Darma Perguruan Tingggi. Yang salah satu visinya adalah mengabdikan diri untuk publik. Diantaranya, memberikan informasi kepada publik dengan objektif, teruji, tepat dan jernih. Melalui pendekatan dan persoalan itulah mestinya publik kini mempertanykan pikiran kritis yang sepatutnya dimiliki Universitas. Di manakah ia?

Penulis : Kris Herwandi (Alumnus Universitas Swadaya Gunung Jati)

Suguhkan Pemandangan Cantik, Begini Penampakan Kebun Teh Cipasung

Tidak ada komentar
Majalengka, Setaranews.com - Kebun Teh Cipasung mungkin sudah tidak asing lagi didengar oleh segilintir orang yang hobi travelling, kebun teh cipasung terletak di Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih Kabupaten Majalengka.

Untuk sampai ketempat yang memiliki pemandangan yang menyegarkan mata itu memerlukan waktu empat jam dari Cirebon Kota, belum lagi perjalanan yang harus dilalui cukup sulit. Medan yang ditempuh merupakan jalanan dengan kontur tanah yang licin dan basah, untuk itu diperlukan keahlian khusus dalam berkendara, untuk sampai ke lokasi kebun teh hanya dapat di tempuh oleh kendaraan roda dua.

Pengunjung yang datang pun beragam mulai dari anak-anak,remaja,orang dewasa, bahkan sepasang kakek dan nenek serta dari berbagai macam daerah seperti Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu dan Ciamis.

Kebun Teh Cipasung dikelola oleh warga sekitar, kita tidak perlu khawatir jika kelaparan karena disekitar Kebun Teh Cipasung banyak tenda warung-warung warga.

"Pemandangannya bagus banget , kebayar rasa capek di perjalannya apalagi saya dari Indramayu sengaja libur kuliah kesini refreshing gitu deh," ujar tiara mahasiswa perguruan swasta di Indramayu.

Memperingati Hari Buku Sedunia, Idental Radio Menggelar Acara Chambook

Tidak ada komentar

Selasa, 26 April 2016

Unswagati, Setaranews.com – Idental Radio menggelar serangkaian acara yang bertemakan “Chambook” atau Charity My Book. Radio yang dikelola oleh mahasiswa – mahasiswa dari Unswagati Cirebon menggelar acara ini dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April 2016 kemarin.

Acara yang diselenggarakan oleh Idental Radio ini bermaksud untuk menghidupkan kembali minat membaca dan kecintaan terhadap buku yang kian hari kian menurun drastis.

“Karena ironisnya walaupun buku itu adalah sumber ilmu yang bermanfaat dan diibaratkan sebuah jendela dunia, buku itu sudah kurang diminati lagi pada zaman sekarang” ujar Dessy Sagita selaku ketua pelaksana kepada setaranews.com ketika ditemui disela – sela acara, Senin (25/04).

Dengan tema yang diusung “Chambook” atau Charity My book, Idental Radio dalam acara yang diselenggarakan membuka stand untuk para donatur – donatur baik dari kalangan mahasiswa maupun dari umum yang ingin mendonasikan bukunya yang diperuntukkan kepada mereka yang membutuhkan buku seperti Panti Asuhan.

“Kira – kira buku yang akan didonasikan sudah terkumpul sampai 25 buku. Tujuan buku yang akan didonasikan ini sasarannya akan kita berikan kepada panti asuhan dan juga rumah buku yang dimiliki Wakil Dekan III kita (FISIP-red) Pak Khaerudin Immawan di daerah Kapetakan” tutur Eci (sapaan Dessy).

Lebih lanjut, Eci mengatakan buku yang akan didonasikan lebih dikhususkan buku anak – anak karena akan diberikan kepada panti asuhan. Tetapi, lanjut Eci, tidak menutup kemungkinan untuk buku – buku umum seperti buku pengetahuan dan ensiklopedia tetap diterima untuk didonasikan kepada rumah buku milik Khaerudin Immawan.

Eci juga menjelaskan diadakan donasi buku untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan untuk saling berbagi ilmu yang bermanfaat dalam keterbatasan mereka.

“Donasi buku ini untuk menimbulkan rasa empati kita terhadap sesama” tambahnya

Serangkaian acara yang diselenggarakan Idental Radio antara lain Bazzar Buku, SelfieChallange, Donasi Buku, Live Music Acoustic dan juga Stand Up Comedy sebagai hiburan bagi mereka yang menghadiri acara tersebut.

 

 

Jurnalis : Hashbi Isma Rabbani

BEM FISIP Menggelar Festival Budaya Cirebon

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Unswagati menyelenggrakan kembali acara “FISIP Duwe Gawe” yang masih bertemakan “Membangunkan Kembali Budaya Cirebon yang Tertidur”  Sabtu 23 April 2016 di Gua Sunyaragi Cirebon.

Acara yang yang bertajuk “Sound of Art and Culture” berbeda dengan acara yang diselenggarakan kemarin, acara ini lebih kepada menampilkan beberapa kebudayaan – kebudayaan Cirebon kepada masyarakat.

“Tadi ada Tari Rampak, Tari Wayang ada Gamelan juga. Kemarin kita hanya seminar kalau sekarang kita lebih mementaskan budaya seperti apa itu Tari Wayang  Tari Topeng Kelana itu seperti apa” ujar Tyo Mulyadi selaku Ketua Pelaksana kepada setaranews.com ketika ditemui di lokasi.

Lebih lanjut, Tyo Mulyadi menghimbau agar seluruh lapisan masyarakat Cirebon khususnya para generasi muda mulai mecintai budaya asli Cirebon dari diri sendiri dan juga tidak melupakan budaya – budaya asli Cirebon agar tetap eksis di masyarakat.

Acara yang diselenggarakan selain untuk memperkenalkan kembali budaya asli Cirebon kepada masyarakat, acara ini juga untuk membantah tudingan miring yang ditujukan kepada mahasiswa FISIP Unswagati yang dicap negatif oleh banyak pihak.

“Kita disini ingin membuktikan kepada seluruh fakultas bahwa anak FISIP itu tidak sepenuhnya negatif, tidak dengan aksi, tidak dengan apa – apa itu hal yang menyimpang. Kita disini ingin membuktikan kita juga bisa membuat acara seperti ini” pungkas Tyo.

Selain mementaskan budaya asli Cirebon, Sound of Art and Culture juga menghadirkan hiburan – hiburan dengan menampilkan beberapa band lokal dari Cirebon dan juga dari luar Cirebon.

 

Jurnalis : Hashbi Isma Rabbani

Festival Islami, Event Besar Terdekat IMMNI

Tidak ada komentar

Senin, 25 April 2016

Unswagati, www.setaranews.com - Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul Ilmi (IMMNI) Unswagati telah memiliki beberapa agenda terdekat sepanjang bulan April-Mei, selain minggu ini akan diadakan Open Recruitment tahap ke-II, IMMNI pun akan mengadakan sebuah event besar bernama Festival Islami pada tanggal 16-19 Mei di Kampus I Unswagati.

Acara tersebut diadakan dalam rangka mempringati Isra Mi'raj dan turut melibatkan UKM lain yakni Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan Tutorial Keislaman.

"Habis ada open recruitment tahap kedua, dibulan Mei itu sendiri nanti kita mau mengadakan yang namanya Festival Islami yang nantinya acara puncaknya tanggal 19, Isra Mi'rajnya, dan kita bekerja sama dengan DKM dan Tutorial untuk memaksimalkan agenda tersebut, karena fokus kepada anak-anak SMA, terkhusus dari mahasiswa akan ada serangkaian perlombaan seperti BTQ, Marawis, dan sebagainya." Tutur Zaenul Nadif selaku Ketua dari IMMNI pada Setaranews.com, Sabtu (23/04).

Selain event tersebut, Zaenul melanjutkan bahwa IMMNI akan melaksanakan kerja sama dengan Bimbingan Siswa Islami (BSI) dalam waktu dekat pula, dimana sasarannya adalah anak-anak SMA.

"Artinya kita membina dari bawah dulu, disamping mempromosikan Unswagati, kita juga dapat dikatakan menyebar syiar agama ke anak-anak SMA, ini bentuknya mobile, bedah film, tapi memang kita belum mengagendakan, dalam artian belum mencari hari yang tepat, dan rencananya mau dibulan Mei juga." pungkasnya. - Ikatan Mahasiswa Masjid Nurul Ilmi (IMMNI) Unswagati telah memiliki beberapa agenda terdekat sepanjang bulan April-Mei, selain minggu ini akan diadakan Open Recruitment tahap ke-II, IMMNI pun akan mengadakan sebuah event besar bernama Festival Islami pada tanggal 16-19 Mei di Kampus I Unswagati.

Acara tersebut diadakan dalam rangka mempringati Isra Mi'raj dan turut melibatkan UKM lain yakni Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan Tutorial Keislaman.

"Habis ada open recruitment tahap kedua, dibulan Mei itu sendiri nanti kita mau mengadakan yang namanya Festival Islami yang nantinya acara puncaknya tanggal 19, Isra Mi'rajnya, dan kita bekerja sama dengan DKM dan Tutorial untuk memaksimalkan agenda tersebut, karena fokus kepada anak-anak SMA, terkhusus dari mahasiswa akan ada serangkaian perlombaan seperti BTQ, Marawis, dan sebagainya." Tutur Zaenul Nadif selaku Ketua dari IMMNI pada Setaranews.com, Sabtu (23/04).

Selain event tersebut, Zaenul melanjutkan bahwa IMMNI akan melaksanakan kerja sama dengan Bimbingan Siswa Islami (BSI) dalam waktu dekat pula, dimana sasarannya adalah anak-anak SMA.

"Artinya kita membina dari bawah dulu, disamping mempromosikan Unswagati, kita juga dapat dikatakan menyebar syiar agama ke anak-anak SMA, ini bentuknya mobile, bedah film, tapi memang kita belum mengagendakan, dalam artian belum mencari hari yang tepat, dan rencananya mau dibulan Mei juga." pungkasnya.

Mimpi yang Harus Terbangun

Tidak ada komentar

Sabtu, 23 April 2016

*Hari ini kesiangan*

Berusaha biar enggak kesiangan dan beruntungnya hari ini dianter sampe kampus sama Angga temen satu UKM di kampus, bedanya dia anak Ilkom dan 2 tahun lebih tua tapi sebenernya kenapa bisa kesiangan kayak gini juga gara-gara sama dia belum lagi Angga malah nyuruh balik ke kampus naik angkot coba emang enggak berperikemanusiaan kan, tapi beruntungnya itu enggak kejadian. Oke udah sampe depan gedung fakultas ekonomi cuma yang jadi masalah ini baru lantai dasar sedangkan kelasnya ada di lantai 3.

"Wahhh bisa mati beneran kalo gini kenapa si Oca ga bales sms gue lagi? Apa pak Dudu udah ada di kelas ya?" Kesal.

"Oke jangan banyak ngeluh ini masih lantai pertama bentar-bentar pulpen gue dimana? Gue harus cepet-cepet ngisi absen pas udah nyampe kelas, sebelum absennya diambil pak Dudu. Aaa tadi pulpennya bekas si Angga wuaaaaa di taro dimana ya?"

Dan brugghhhh kertas-kertas berterbangan jatuh seakan itu hujan ajayyy mungkinkah ini salju yang turun di tengah siang bolong? Oke lupa di Indonesia ga ada salju.

"Aaaa udah telat jatuh lagi, kamu gapapa?" Oke tau ini kebalik harusnya yang didrama-drama kan cowok yang nanya itu tapi ini  beda keadaan, kalo disini...Gilaa ini bukan  bayangan cowoknya bener-bener manis tapi dingin auranyaaa..”  jadi gue putusin buat nanya duluan barangkali beneran jodoh.

“Hehh ..” ucap cowok itu

CETARRRRRRRR

Hayalan gue tentang jodoh dan muka manis cowok itu berubah jadi asem dan gelap jadi menakutkan .... !!

“Hehh?? “ tanya gue masih diposisi jatuh tadi.

"Iya heh kenapa emang? Ini kedua kali nya gue jatoh hari ini, dan lo cewek juga? Kenpa si di dunia ini cewek pada labil dan ceroboh lo bisa naik tangga ga sih? Lo tau kalo lo naik tangga harusnya dari sebelah kiri bukanya sebelah kanan!!" Omelnya.

Astaga dia cowok apa nenek lampir ngomelnya lebih cepet dan nyakitin 3 kali lipat di bandingkan oma gue di rumah. Darah gue  mendadak  naek dan,

"Hehh  lo bilang tadi  ini yang kedua kalinya lo jatuh? Berarti yang ceroboh sama labil itu lo sendiri ini enak aja main nyalahin gue, dengerin ya gue baru jatuh 1 kali hari ini dan bentar-bentar lo tadi ngasih tau gimna cara naik tangga? Yakali gue pas naik tangga mikirin kanan atau kiri. Ahhh udah lah lagian sekarang gue buru-buru dan buat lo dengerin ya lo itu emang cowok jadi jadiann!!" Teriak gue sambil nunjuk mukanya yang seharusnya manis tapi udah gue ganti jadi pait.

Gue  lanjutin lari lagi dan ninggalin cowok jadi-jadian itu.

Hahhhhh hahhh nafas gue akhirnya nyampe depan kelas tapi gimana ini masuk ?? Engga?

“Huaaa 2 menit lagi gue pasti telat 30 menit gimana ini masih di bolehin masuk engga ? Tuhan tolong Iren.

Ahh gua ada akal tutttt tuutttt tuuttt yahh ga di angkat dan krekkk (nengok ke kanan) huaaa bapaknya keluar dan buka pintu seneng dan kreek pintunya di tutup lagi yaaaaa -_-

Itu tandanya suruh masuk apa tetep di luar? tanya gue dalam hati.

Bodo mungkin itu tandanya suruh masuk.

Dan akhirnya dengan muka tak berdosa gue pun masuk dapet bonus diketawain  satu kelas oke itu enggak jadi masalah dan hari ini gue anggap aman pak Dudu nya juga enggak marah gue masih dibolehin ngisi absen dan intinya aman.

3 jam selesai mata kuliah pak Dudu.

“Eh Ren lo masuk paling terakhir sekarang keluar paling awal lo cewek gila emang ya!!” teriak Beni.

“Bodo siapa cepat dong Ben”  jawab gue.

Kreekk pintu kelas gue buka.

“Ko keluarnya lama sih udah aku tungguin nih dari tadi sini tas nya” suara paling lembut dan manis itu berasal dari cowok jadian-jadian tadi? yang tabrakan tadi? Mau ngapain coba tiba-tiba ada di depan pintu?

“Ahhh kamuu.. “

“Ayo kita makan aku laper nih” potong cowok itu.

Sontak semua yang di pintu pada rame mereka bersiul dan teriaknya Beni yang khas tanda ngejek tingkat dewa.

“Yauda kita duluan ya “ sambungnya.

Tarik dia tanpa nunggu jawaban gue.

Jalan  ke arah parkiran kampus dan buku-buku gue dia  yang bawa mungkin biar gue enggak kabur.

“Mungkin hari ini masih belum aman, ada niatan apa coba ini cowok? tapi yaudah lah lagian dia tadi bilangnya mau makan kan,  kapan lagi makan ada yang bayarin kalo nunggu yang ulang tahun sih kelamaan mungin ini yang disebut rezeki yak terduga HAHAHA“ gumam gue dalam hati.

Motornya berenti di salah satu rumah gede di komplek yang elit “Ko gue berasa jadi Cinderella ya, dia bak pangeran kaya dan gue jadi pembantu ?” ahh lupain Ren lo ngayal kejauhan.

“Heh katanya mau makan kenapa kerumah? Ini rumah siapa ? lo bukan orang nakal kan ? ahh gue teriak nih” ahhh lupain masa iya gue kayak gitu semua dialog itu Cuma ada di drama korea oke brpikir jernih aja kalem ren kalem gumam gue dalam hati.

“Ini rumah orang tua lo ya? Mau makan dirumah lo tah?“ Ucap gue dengan nada pelan mencoba buat sopan.

“Ini cewek aneh banget kenapa jadi bersikap tenang gini? Ahh enggak sesuai yang gue rencanain gumam cowok itu.

Akhirnya tanpa babibu gue sama dia masuk kedalam rumah itu dan langsung ke ruang tengah sofanya empuk banget adem (kenapa jadi norak gini ya) dia ninggalin gue mungkin mau bawain air minum yauda gue nunggu.

Bruukkk

“Nihh rapihin, tuh absennya lo susun ulang. “

Dia dateng bukan ambil minum tapi bawa kertas

“Bentar-bentar ini kertas yang tadi di tangga itu?” tanya gue

“Iyalah ini kertas yang tadi lo jatuhin, sekarang lo susun ulang gue keluar dulu” katanya

Darah gue mulai naik lagi tapi gue putusin buat tetep tenang lagian gue enggak ada jadwal lagi dan ini juga salah gue enggak ada salahnya juga gue bantuin dia.

“Eh bentar nama gue Aldo jadi kalo adek gue dateng bilang aja kalo lo itu temenya Aldo ngerti kan ?”

Gue mengangguk pasrah.

15:30

Ahhh selesai gila jadi semua kertas ini ternyata kertas ulangan dari  6  kelas  pantes dia marah tadi di tangga

“Huaaaaa  kenapa dia belum pulang ya” nengok jam tangan ahh tapi gapapa lah si mbonya baik banget gue di kasih minuman seger banget sama cemilanya juga jadi gue enggak kelaperan.

Suara motor pasti itu Aldo.

Dan ternyata bener dia dateng enggak bawa tangan kosong ngertikan maksudnya dia bawa apa? dia bawa Pizza huaaaa perut gue langsung bunyi. Dan akhirnya sambil makan akhirnya kita ngobrol macem-macem ternyata dia orangnya enggak buruk terutama senyumnya itu manis kakak huaaa.

KREKK

“Tadi adek lo belum dateng jadi pasti yang bakalan masuk ini adek lo, tau deh gue tebak ya adek lo juga cakep kan sama kayak lo “ haha ucap gue sambil melahap pizza.

"Tumben ka udah pulang “ suaranya udah enggak asing.

“Iya  nih  lagi ada temen, gue beli pizza lo mau enggak”

“Mauuuu dong “ jawab cowok itu

“Irennn lo ngapain disini ? ini temen lo ka ?

Uhukkk uhukk  pizza gue nyangkut di tenggorokan ahh gue keselek gara-gara angga maluuu !!

“Ren ini minum-minum“ ucap Aldo

Ahhhhh akhirnya legaaa

“Angga lo enggak kira-kira kenapa pake nada kaget kayak tadi gue jadi ikutan kaget kan terus jadi keselek kayak gini” teriak gue

“Yakali kaget  lo ngapain ada di rumah gue? jangan bilang kalo lo temen kaka gue” cerocosnya.

“Gue yang ngajak Iren kerumah buat beresin ketas gue tadi kita jatoh di tangga ga, kenapa sih ? kalian kenal ?” tanya Aldo.

“Ka dia itu cewek yang sering gue ceritain cewek paling aneh dan rusuh dia enggak bisa kalem atau anggun dia sering ngebentak-bentak gue”  sambung Angga.

“Ahh gini gue ceritain sebenranya kenapa gue bisa nabrak kaka lo itu ya gara-gara lo sendiri lo naro pulpen gue dimana? di tas gue enggak ada dan di tempat pensil gue juga enggak ada, gue nabrak kaka lo pas lagi nyari pulpen dan pulpen gue ilang gara-gara lo jadi sumber masalah ini ada di lo, tau enggak gara-gara lo gue harus nyusun kertas kertas ini tau enggak !!”

“Kenapa gue jadi dimarahin si nih pulpen lo gue balikin , gue tadi minjem dan udah bilang kalo pulpen lo gue bawa. Lagian lo langsung naik tangga enggak nengok ke gue bilang makasih juga enggak dasar cewek jadia-jadian” jawabnya

"Udah ahh gue enggak mau makan ka gue cape."

4 hari kemudian gue sama Aldo nambah akrab dan aneh gue jadi manggil dia ka, karena kemaren-kemaren gue khilaf kalo dia lebih tua dari gue.

Dan aldo ngungkapin perasaanya ke gue tapi rasanya aneh gue enggak ngerasain apa-apa, gue inget ramalan bulan kemaren yang ngasi tau kalo bakalan ada dua  cowok yang bersikap di luar batas normal apa itu ka Aldo sama Angga ? tapi Aldo udah jadi normal sekarang dan Angga sekarang ngedadak ngejauh.

“Ahh mereka emang manusia di atas batas normal yang satu makin deket yang satunya malah makin jauh”

“Eh ren gimana keputusan lo sekarang ka aldo itu lo terima apa enggak? “tanya Oca

“ga tau ca, gue bingung si angga kenapa jadi jauh dari gue ya?  Sekarang dia kalo ngomong engga marah-marah lagi, dia sopan sama anehh lahh intinya enggak kayak dulu ca”

“Kenapaa jangan – jangan lo kangen sama Angga, dan jangan-jangan lo suka sama angga ? lo nyaman kalo ribut sama Angga tapi lo malah enggak nyaman sama cowok yang bersikap baik dan sempurna kayak Aldo kan “

“satu lagi Ren lo itu cewek  aneh dibumi ini, inget kata pak Dudu ? cewek kayak lo baru dia temuin, mahasiswi yang telat masuk kelas terus nelepon ke dosen dan nanya boleh masuk kelas apa engga ? itu Cuma lo Ren , dan sekarang lo suka sama cowok yang aneh juga kayak Angga.” Sambung Oca.

“Apaan sih ca gue engga suka angga, lagian gue normal kok kalian nya aja yang pada jaim dan flat coba kayak gue jangan pake jaim.”

“hahaha” gue ketawa bareng oca tapi pikiran sama hati gue lagi rusuh minta kejelasan. Ini enggak enaknya jadi dewasa semua hal jadi seakan rumit.

2 hari kemudian gue beraniin ketemu Angga sama Aldo di tempat yang berbeda.

“ka Aldo, Iren nyaman sama ka Aldo yang jatuh di tangga jauh  lebih bebas keliatanya dan Iren belum sedewasa ka Aldo kan berabe kalo kita pacaran nanti ka Aldo tiba-tiba ngelamar. Iren masih suka dunia yang bebas Iren masih enggak mau punya pacar lagi tau kan Iren belum move on dari anak Bahasa Inggris jadi sekarang Iren mau sulap ka Aldo balik lagi ke awal kenal Iren, kita bakalan bersikap biasa lagi dan ka Aldo tetep seperti biasa  oke hitungan ketiga ka Aldo baru buka mata “ ucap gue dengan menutup mata ka Aldo.

1..2..3..

Bughh

Ka Aldo ......

“sebentar aja ren”

Di tempat lain di waktu yang berbeda

“Ga, lo pasti nanya kenapa gue nutup mata lo gini pake tangan gue, tenang ko tangan gue bersih ko tapi pas nanti gue ngomong atau nanya lo engga usah jawab ya lo diem aja cukup mendengarkan”

Gue tarik nafas sebentar dan angga mengangguk.

“ Ga lo ko berubah sih, aneh tau lo tiba-tiba baik, pendiem lo nganggurin gue enggak pernah bentak-bentak gue lagi, enggak pernah marah –marah lagi. Lo makin kesini makin jauh, oiya lo tau kan masalah kaka lo suka sama gue? apa gara-gara itu? Ahh lo cowok jahat ga, kenapa engga bilang ke kaka lo kalo gue masih belum bisa move on dari anak Bahasa Inggris lagian lo kan tau kalo gue engga mau pacaran dulu. Apa jangan-jangan lo suka sama gue? ahh mustahil terus kenapa lo ngejauh dari gue?  Tau enggak gue itu nyaman sama lo maksudnya sama sikap lo. Jadi jangan bikin gue kayak patung ya dan sekarang gue bakalan sulap dalam hitungan tiga  saat lo buka mata semuanya balik lagi dari awal sikap lo suara lo semuanya sama dan enggak ada yang berubah”

1..2..3...

Bughh

“Angga lo ngapain si ?”

“Sebentar aja Ren ..”

Pelukan mereka berdua sama-sama hangat mungkin karena mereka ade kaka, tapi bersyukur semunya selesai dan semoga kedepanya enggak ada yang berubah tetap menjadi teman.

Enggak semua kenyamanan itu harus terikat dengan hubungan pacaran, kita bisa berteman dan bersahabat kita boleh menyukai seseorng tapi tidak harus memaksakan, kita oleh bermimpi atau menyukai drama tapi harus kembali membuka mata melihat kenyataan bersikap biasa dan menyukai sewajarnya.

Ikat Tali Silaturahmi, Himatansi Adakan Accounting Together

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi (Himatansi) Universitas Swadaya Gunung Jati mengadakan acara Accounting Together pada Senin (18/4) lalu. Acara tersebut berisi berbagai kegiatan diantaranya futsal competitions, HMA smart, dan ADIA (Anugerah Dosen Idola Akuntansi).

Acara tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari mulai 18 s.d 20 April namun dikarenakan berbagai kendala secara eksternal menyebabkan kegiatan tersebut hanya berlangsung selama dua hari. Kegiatan futsal competitions diikuti oleh sebagian mahasiswa Akuntansi baik dari tingkat satu, dua, maupun tiga dengan memperebutkan hadiah utama sebesar Rp. 1.000.000.

"Kegiatan Accounting Together ini bertujuan untuk mengikat tali silaturahmi antar mahasiswa Akuntansi, lalu untuk ADIA merupakan bentuk apresiasi dari mahasiswa Akuntansi untuk dosen-dosen yang ada di jurusan Akuntansi " jelas Dicky selaku ketum Himatansi.

Tutorial Keislaman Akan Adakan Kajian Rutin Untuk Semua Kalangan Mahasiswa

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com– Salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari Universitas Swadaya Gunung Jati yakni Tutorial Keislaman mengadakan sebuah Kajian Rutin di Masjid Nurul Ilmi Kampus I Unswagati yang terbuka untuk semua kalangan mahasiswa pada setiap akhir pekan, tepatnya Sabtu sore.

Ditemui oleh Setaranews.com pada Sabtu (23/04), Asep Saeful Rahman selaku Ketua Umum Tutorial Keislaman memaparkan bahwa Kajian Rutin tersebut merupakan kajian tematik yang akan dipimpin oleh seorang Ustadz guna memberikan forum dengan tema yang disesuaikan dan mudah diterima oleh kalangan mahasiswa, “Itu kajian rutin, setiap pekan, setiap sabtu sore, kajian tematik, untuk mahasiswa umum, kita mulai dari hari ini, mulai sore ini ya,” paparnya.

Asep mengungkapkan bahwa acara tersebut tercetus ketika terdapat saran-saran yang masuk dari para pengurus dan beberapa mahasiswa untuk mengadakan sebuah kegiatan yang dapat menambah wawasan tentang dunia Keislaman, “Jadi, menindaklanjuti ketika banyak saran dari teman-teman pengurus dan mahasiswa, coba adakan kegiatan yang sekiranya menambah wawasan keislaman, dengan inisiatif saya buat acara ini, khusus untuk pengurus dan mahasiswa, dari kajian tersebut bisa belajar agama,” tambahnya.

Pada 15 Mei mendatang, Tutorial Keislaman juga akan mengadakan sebuah event besar yakni Mentoring Keislaman menggantikan Studi Banding ke Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) yang mengalami kegagalan karena persiapan yang belum maksimal,  dan pada Juni mendatang akan ada Muktamar Kepengurusan.

Peringati Hari Kartini, HMS Tampilkan Engginering Percussion

Tidak ada komentar

Jumat, 22 April 2016

Cirebon, Setaranews.com – Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Unswagati Cirebon unjuk diri dengan menampilkan Engginering Percussion dalam acara peringatan hari Kartini ke-137 yang di selenggarakan oleh Gerakan Organisasi Wanita (GOW) Kab.Cirebon memperingati hari kartini pada kamis (21/04).
Acara dimulai pukul 09:00-12:00 WIB, bertempat di Aula lantai tiga Gedung Bupati Cirebon.

Deni Aprianto selaku ketua Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) merasa sangat senang dan antusias karena terlibat dalam acara peringatan hari kartini yang ke-137.

“Ibu Kartini adalah sosok wanita yang di idolakan oleh kalangan muda, kami sangat senang bisa berpartisipasi dalam peringatan Hari Kartini. Kemudian, ini merupakan sebuah karya dari teman-teman teknik sipil untuk menggekspresikan diri dalam bidang seni, dalam acara ini mengkombinasikan alat musik tradisional sunda dan jimbe” Ungkapnya saat diwawancarai setaranews.com

Dalam acara ini gerakan organisasi wanita (GOW) menampilkan kegiatan-kegiatan posistif dari generasi muda seperti karya seni seperti tari jaipong, tari topeng, serta  lomba busana dari ibu-ibu darma wanita dan berbagai organisasi gabungan wanita, kemudian di tutup dengan penampilan engineering percussion dari mahasiswa teknik sipil Unswagati Cirebon.

“ saya sebagai wanita tentunya juga seorang ibu ingin menampilkan sesuatu yang baru kepada para ibu, supaya berpikir ini lho anak-anak kita yang punya kreatifitas. Walaupun di engginering tetapi masih bisa berkarya di bidang seni.” Ujar Heni Dadang Ketua Gerakan Organisasi Wanita saat diwawancarai setaranews.com disela-sela acara berlangsung.

Aacara ini bertemakan "Dengan Semangat Kartini, Kita Tingkatkan Perlindungan Terhadap Perempuan Dan Anak".

Darah di Wajahku

Tidak ada komentar

Kamis, 21 April 2016

Kau masih terjerat malam
Padahal hari sudah pagi
Lemparkan salah padaku
Yang tak kau sadari, dosa ini pun punyamu

Terhadap tubuh ini
Kau mendamba, memuja layaknya aku dewa
Namun sehabisnya kau terkam, membabat habis
Meninggalkan bekas manis berupa jahitan

Karena kau istriku, maka harus manut padaku
Katamu sambil membuka selangkanganku paksa
Padahal lihatlah darahku mengucur dari kepala
Oh ibu… tolong aku diperkosa

Tidakkah kau ingat, sayang
Tentang janji kita di altar pada waktu lampau
Kau memang pelupa
Atau aku yang terlalu hina?

Sekarang biarlah sayang, lupakan kejadian semalam
Di depan tubuhmu yang membiru dan kaku
Kusajikan dua gelas cairan merah pekat
Yang di antaranya ada pisau dengan bekas darah
Ah… sarapan pagi ini mewah

Penulis: Anisa Arwilah Mahasiswi Fakultas Ekonomi

PKL Depan Kampus I Unswagati Terancam Tak Miliki Lahan Berdagang

Tidak ada komentar

Minggu, 17 April 2016

Cirebon,setaranews.com -  Pedagang Kaki Lima (PKL) disekitar area depan Kampus utama Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) terancam digusur, salah seorang PKL yang enggan disebutkan namanya, dan sudah lama berdagang disitu memaparkan bahwa penggusuran dilakukan oleh dua pihak yakni Komando Distrik Militer (Kodim) dan Unswagati.

"Setahu saya, penggusuran dilakukan oleh pihak dari Kodim dan Unswagati. Untuk yang dilakukan pihak Kodim itu PKL yang tadinya disebrang Kampus, sekarang dibuat tempat makan tongkrongan baru, sekaligus untuk parkiran. Terus yang dilakukan pihak Unswagati itu PKL yang tadinya di trotoar, dekat gerbang Kampus, katanya kalo tidak salah disitu mau dibuat taman." ucapnya pada Setaranews.com, Jumat (15/04).

Salah seorang PKL lain yang enggan disebutkan pula namanya, yang sempat berdagang disebrang Kampus I Unswagati membenarkan bahwa penggusuran dilakukan oleh pihak Kodim.

"Saya pindah jualannya, ada penggusuran, tidak boleh berjualan disana, soalnya dibangun tempat makan, tongkrongan gitu. Yang melakukan pihak dari Kodim." tandasnya, sedikit enggan berkomentar lebih banyak.

Terkait akan adanya pembangunan Mini Market disamping Kampus I Unswagati, salah seorang PKL yang sedari awal diwawancarai mengungkapkan sedikit keresahannya apabila hal tersebut benar terealisasi.

"Saya gak tahu pasti ya, pembangunan mini market itu jadi atau gak, sudah lama tapi belum ada kepastian, tapi mungkin nanti kalo jadi, PKL yang berdagang disini akan digusur juga." lanjutnya.

 

Reporter: Fiqih

Opini: Heregistrasi untuk Siapa?

Tidak ada komentar

Sabtu, 16 April 2016

Opini,Setaranews.com- Bicara cinta tentunya harus diperjuangkan, begitupun sebaliknya perjuangan butuh cinta. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Suara – suara itu tidak akan pernah terpenjarakan, walaupun dipaksa untuk diam. Dorongan cinta yang begitu besar akan menghasilkan sikap perjuangan yang begitu massif, konsisten, dan akan selalu bangkit dan bergerak. Cinta tidak melulu disimbolkan kepada sepasang lawan jenis yang sedang bercumbu memadu asmara, tidak, tidak begitu. Berbagai persoalan yang ada di Unswagati, khususnya heregistrasi yang sedang buming belakangan ini, dan kemudian memicu reaksi dari mahasiswa. Sayangnya, reaksi terebut dipahami sebagai sebuh pencorengan terhadap lembaga? Pemikiran yang begitu sempit!

Sepertinya tidak elok, apabila mengenai hukum sebab-akibat saja tidak mahfum (paham). Reaksi penolakan heregistrasi dari mahasiswa merupakan sebab dari sebuah kebijakan, yang menurut saya, tidak hanya tingkat satu (yang dibebankan) saja yang menolak, semua tingkatan pun jelas pasti menolak. Pertanyaan, mengapa mahasiswa begitu keras menyuarakan penolakan? Sepertinya, pihak rektorat dan Yayasan lupa, atau enggan untuk mengingat, bahwa mahasiswanya memiliki mata, hati dan pikiran. Yang hanya dengan pandangan mata saja, menurut saya menjadi argumentasi yang kuat untuk menolaknya.

Saya pun sampai saat ini masih bertanya – tanya, entah logika apa yang digunakan oleh lembaga saya tercinta dalam melakukan sistem dan pengelolaannya. Baiklah, mari kita coba analisis menggunakan logika bisnis (perusahaan). Apabila menggunakan logika ini, kita sebagai lembaga pendidikan tentunya bergerak dibidang jasa. Dalam sebuah perusahaan jasa, yang diutamkan yaitu kepuasan dari pelanggan, Kalau pelanggan tidak puas tentu akan merekomendasikan sanak saudarnya untuk tidak berlangganan, betul atau tidak? Maaf kalo saya salah, maklum masih mahasiswa, bukan dosen, doctor, professor, apalagi tentara. Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai pelanggan yang benar – benar harus diberi kepuasan. Coba lakukan survey pelanggan (mahasiswa) apakah puas? Silahkan jawab sendiri pertanyaan tersebut.

Itu yang pertama, kemudian selanjutnya sebagai seorang pelanggan tentunya tidak bodoh, apalagi dengan mudah dibohongi begitu saja. Pelanggan pun tentunya tak mau rugi, apa yang mereka keluarkan, tentunya harus berbanding lurus dengan apa yang didapat. Dari contoh kasus di Unswagati, dengan biaya kuliah yang semakin meningkat, wisuda, praktikum, heregistrasi, dan biaya – biaya lainnya silahkan sebutkan sendiri. saya akan kembali bertanya, dengan kocek yang dikeluarkan  – yang menurut saya tidak umum untuk tingkatan Universitas di Cirebon, sesuai dengan apa yang kita terima? Sebagai manusia normal, punya bola mata kan? Saya hanya bertanya, tak lebih.

Apabila kita menggunakan logika sebagai lembaga nirlaba, mahasiswa sebagai stackholder sekaligus donator utama tentu memiliki hak untuk mendapatkan apa yang memang seharusnya didapatkan. Jangan untuk itu, meminta laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas saja harus berkeringat, dan berbondong – bonding memnitanya. Karena ketidak terbukaan dari pihak Universitas atau yayasan ini yang menurut saya ada benang merah informasi yang tertutup. Sehingga tidak menutup kemungkinan terdapat inefisiensi anggaran dan terjadi kebocoran anggaran. Lantas kalau sudah begitu, siapa lagi yang kemudian akan menanggung akibatnya? Lagi dan lagi, selalu dikorbankan.

Bagaimana mau terjalin komunikasi informasi yang baik, sedangkan sumber daya manusianya itu sendiri masih berfikir kolot. Untuk menemui rektor dan yayasa saja perlu birokrasi yang berbelit – belit, menemui mahasiswanya sendiri enggan. Maunya  mahasiswa yang harus cium tangan, menghadap, sundawu kanjeng. Masih saja berwatak feodal, merasa sebagai kasta tertinggi, seperti ingin menemui seorang raja.  Sudah pikun tanmpaknya kalau rektor dan yayasan seorang terpelajar yang seharusnya memberikan contoh sebuah sikap yang egaliter (setara). Ya akhrinya, untuk bisa bertemu dan menyuarakan apa yang seharusnya didapatkan saja harus menggelar aksi demonstrasi. Padahalkan itu sudah kewajiban, bukannya begitu? Kalau salah ya wajar, saya mahasiswa bukan anak TEKA.

Kemudian ada argumentasi lagi yang saya geli mendengarnya. Kebijakan heregistrasi mengacu pada UU Pendidikan Tinggi no 12 tahun 2012 dan permen turunannya. Pasal berapa, ayat berapa?  Kalau memang UU tersebut mengatur dengan rinci soal biaya – biaya perkuliahan, mengapa biaya kuliah tiap kampus entah itu swasta ataupun negri bisa berbeda, harusnya sama semua dong karena diatur dalam UU? Lantas ketika Peraturan Mentri sebagai turunannya, mengapa baru diberlakukan tahun ini? Berati dapat disimpulkan, bahwa soal biaya kuliah disesuaikan dan diserahkan atas kebijakan Perguruan Tinggi masing – masing.

Jelas dalam UU dasar pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan untuk mencekik kehidupan warga. Pak, persoalannya apa yang mahasiswa keluarkan tidak sebanding dengan yang didapat. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, Kualitas pelayanan mana yang dimaksud? Kualitas pelayanan terhadap dosen,  rektor dan yayasan beserta jajarannya? Berbagai biaya yang dikeluarkan, termasuk heregistrasi untuk siapa? Silahkan jawab sendiri untuk pertanyaain ini Pak. Mahasiswa kalau mau jawab juga boleh. Untuk mahasiswa suara dan reaksi yang bermunculan, saya rasa itu sebuh bentuk kecintaan yang luar biasa terhadap lembaga. Sebagai otokritik agar lembaganya menjadi lebih baik, Ia atau tidak?

Kalau memang pos heregistrasi itu sudah ada sejak tahun 2012 – 2014, dengan biaya kuliah yang turun namun pos anggaran heregistrasi tersebut bisa ditambal dengan pos anggaran yang lain, karena tidak dibebankan kepada mahasiswa. Saat ini, dengan biaya kuliah yang meningkat drastis – bisa dibilang mahal- mengapa biaya heregistrasi dibebankan? Inefisisien anggaran kah? Kenapa lantas mahasiswa yang harus menanggungnya? Unswagati yayasan, lembaga pendidikan, bukan perusahaan. Kalau mau mencari keuntungan semaksimal mungkin rubah namanya jadi PT. Gunung Jati Persero. Betul tidak? Saya hanya berasumsi, kalau salah ya harap dimalum, sekali lagi, saya masih mahasiswa.

Yang perlu dievaluasi itu bukan mahasiswanya atau reaksi dari mahasiswa, dengan berbagai intervensi dan intimidasi. Niat mahasiswa tulus,  untuk memperbaiki dan menuntut haknya. Ingat yang perlu dievaluasi kebijakan itu sendiri, sebagai akar sebab musabab berbagai persoalan yang ahirnya menimbulkan reaksi. Dihapus atau tidaknya kebijakan tersebut ya kembali kepada keberpihakan rektorat dan yayasan.  Kalau memang tetap saja memaksakan kehendak, atas nama Kemanusiaan, Keadilan, dan solidaritas, mari kita suarakan apa yang seharusnya kita dapatkan. Sebagai bentuk cinta kita, mari kita perjuangkan. Mahasiswa harus bersatu, hilangkan ego sektoral, dan selesaikan apa yang telah kita mulai. Bukannya begitu ??

#SaveMahasiswaUnswagati

#BangkitBergerak

 

Oleh Epri F. Aziz mahasiswa Fakultas Ekonomi

Digeruduk Mahasiswa, Rektor Akhirnya Jelaskan Dana Heregistrasi

Tidak ada komentar
Unswagati,Setaranews.com- Kemarin (15/4) Mahasiswa yang berdemontrasi di depan gedung baru tidak langsung mendapatkan respon dari Rektor. Merasa tidak dihiraukan, mahasiswa pun akhirnya menggeruduk rektor di depan ruangannya. Setelah dua jam berorasi dan berdemontrasi akhirnya rektor mau menemui mahasiswa di depan ruangannya

Rektor menjelaskan bahwa heregistrasi sebetulnya sudah diatur oleh undang-undang dan dipergunakan untuk menunjang fasilitas kampus.

“Heregistrasi itu ada di dalam undang no 12 tahun 2012. Kita harus menaati peraturan yang berlaku. Ini juga untuk fasilitas kampus, untuk kebaikan Unswagati, untuk mahasiswa.”

Setelah menjelaskan, Rektor pun kembali masuk kedalam ruangannya. Merasa tidak mendapatkan tuntutannya di penuhi Ihsan pun sebagai Presiden Mahasiswa kembali berorasi dan mengingatkan pihak Univeristas agar mengabulkan tuntutan mahasiswa.

“Jika tuntatan kami tidak di penuhi maka eskalasi akan semakin besar, tunngu saja”. Ujar Presma yang tengah menjabat itu.

 

Reporter : Adrian

 

Aksi Menyoal Heregistrasi, Ini Tiga Tuntutan Mahasiswa

Tidak ada komentar
Unswagati-Setaranews.com, Mahasiswa Unswagati bersama BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)  melakukan aksi demontrasi terkait biaya heregistrasi yang mencapai Rp 150.000 per mahasiswa

Ihsan sebagai Presiden mahasiswa mengatakan bahwa aksi ini digelar atas dasar tak dapatnya kejelasan setelah pihaknya melangsungkan audiensi dengan rektorat.

“Aksi ini menindaklanjuti audiensi kemarin yang tidak menemui kejelasan apapun kemana larinya uang Rp 150.000 yang di bebankan hanya kepada tingkat  satu saja. Saya rasa ini tidak adil! Kita telah menempuh berbagai upaya , tapi ternyata permintaan audiensi kedua tidak mendapatkan respon positif dari pihak rektorat”

Aksi berjalan damai, mahasiswa meminta agar rektor mau menemui mereka dan meminta rektor menghapuskan biaya heregistrasi karena dirasa sangat memberatkan mahasiswa.

Adapun tuntutan mahasiswa sebagai berikut:

1.Rektor Unswagati untuk menghapuskan Biaya Heregistrasi

2. Transpransikan Laporan Keuangan Universitas Swadaya Gunung Jati

3. Meminta Pihak Universitas selalalu mengadakan dengar pendapat dengan elemen mahasiswa  sebelum membuat kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa.

 

Reporter : Adrian

Audiensi Di Gelar, Mahasiswa Minta DPM-U Adakan Musyawarah Istimewa

Tidak ada komentar

Kamis, 14 April 2016

Unswagati,Setaranews.com- Audiensi diajukan mahasiswa terkait pembahasan  program kerja BEM-U yang sebelumnya sempat dtertunda karena Presma dan wakilnya pergi menghadiri RAKERNAS di Lombok pada kamis (07/04) lalu, akhirnya dapat  dilaksanakan pada senin (11/04) bertempat di ruang kelas fakultas ekonomi lantai dua, Audiensi dihadiri oleh seluruh ORMAWA Unswagati Cirebon dan beberapa mahasiswa Non-ORMAWA.

Audiensi dimulai sektar pukul 14:00 WIB, Audiensi berjalan dengan kondisi sedikit memanas karena keluhan serta argument yang diungkapkan oleh mahasiswa kepada Presma dan wakilnya terkait masalah proker BEM-U. Mahasiswa menuntut kepada DPM-U untuk diadakan musyawarah luar biasa bersama seluruh Ormawa Unswagati, karena mahasiwwa menilai kinerja BEM-U sekarang tidak maksimal dan tidak mengutamakan kepentingan mahasiswa.

“Kinerja BEM-U sekarang tidak maksimal, tidak mengutamakan kepentingan mahasiswanya, presma dan wakilya lebih memilih jalan-jalan ke Lombok menghadiri rakernas ketimbang menghadiri audiensi yang kami ajukan kemarin walaupun akhirnya baru dilakukan audiensi saat ini, dan lebih parahnya lagi pihak DPM-U tidak mengetahui pemberangkatan presma dan wakilnya waktu ke Lombok itu, maka dari itu kami meminta kepada DPM-U untuk diadakan musyawarah istimewa bersama seluruh Ormawa Unswagati.” Tegas Hanif salah satu peserta audiensi.

Akan tetapi Warsono, salah satu anggota DPM beranggapan menjalankan Musyawarah tidak dapat dilangsungakan secara serta merta secara mndadak.

“Untuk diadakanya musyawarah luar biasa bersama seluruh Ormawa Unswagati itu harus dirapati matang-matang dulu, tidak ujug-ujug ditentukan hari ini juga kapan pelaksanaan musyawarah luar biasa itu, karena anggota DPM-U itu bukan hanya satu orang melainkan anggota DPM-U itu banyak, jadi harus dirapati terlebih dahulu.” Ungkap Warsono salah satu anggota DPM-U di akhir sesi Audiensi.

Diakhir Audiensi disepakati  bahwa pelaksanaan musyawarah istimewa  harus dirapatkan oleh pihak DPM-U terlebih dahulu.

Reporter: Awank

Tolak Relokasi Pasar Sumber, Warga akan Mendirikan Tenda.

Tidak ada komentar

Sabtu, 09 April 2016

Sumber, Cirebon, setaranews.com - Sebagai bentuk keseriusan dalam menolak relokasi pasar, pemuda, pedagang dan masyarakat menginisiasi untuk menduduki bekas pasar lama yang terbakar dengan mendirikan tenda. Tidak hanya itu aksi penyebar famplet akan digelar di area Car Free Day (CFD) Kabupaten Cirebon. Aksi ini dilakukan bahwa wacana penolakan relokasi tidak sekedar wacana.

Dikatakan oleh Ketua Gerakan Pemuda Sumber ((GPS), Jalil menegaskkan bahwa pihaknya akan terus melakukan serangkaian aksi agar tuntutan masyarakat pedagang bisa diakomodir dan direalisasikan oleh pemangku kebijakan (Baca:Bupati).

"Kami tidak main-main. Serangkaian aksi tidak akan berhenti sampai benar - benarr tuntutan masyarakat direalisasikan. Kami meminta dukungan semua elemen dengan like fans page: Save Pasar Sumber, Twitter: @pasarsave , IG: @tolakrelokasi, " Pungkasnya.

Sementara itu salah satu pemuda Sumber, Imam, semua pihak yang berada disekitar lokasi bekas pasar lama sepakat untuk mendirikan tenda. Kata dia, hal ini merupakan aksi sebagai bentuk penolakan mereka terhadap relokasi.

"Bahkan diluarr pasar sumber, mulai sore kami akan mendirikan tenda di bekas pasar lama. Jam 10 malam kita bikin acara camp. Kegiatan ini untuk membakar semangat semua elemen. Sekaligus buktii bahwa kami tidak main-main menolak relokasi,"katanya kepada setaranews, Sabtu (09/04).

Imam menambhakan kegiatan tidak berhenti sampai disitu. Minggu pagi warga yang tergabung dalam penolakan relokasi akan menggelar sosialisasi sekaligus penyebaran famplet di sekitaran area CFD Sumber. Kiata Imam, ini dilakukan agar semua warga mengetahui persoalan relokasi yang merampas hak warga dan pedagang.

"Agar semua kalangan mengetahui keluh kesah dan persoalan terkait relokasi. Kami butuh dukungan dari semua elemen, untuk itu sosialisasi terus dilakukan," ungkapnya.

 

Ini Tuntutan Aksi Mahasiswa Terhadap Presma

Tidak ada komentar

Jumat, 08 April 2016

Unswagati, Setaranews.com- Aksi yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di kampus utama Universitas Swadaya Guning Jati Cirebon terkait masalah Presma yang lebih memilih menghadiri Rakernas di Lombok daripada menghadiri serta memfasilitasi audiensi bersama mahasiswa pada Kamis (07/04) diwarnai dengan gumpalan kabut hitam dan tuntutan-tuntutan  yang dilayangkan kepada Presiden Mahasiswa (Presma) dan Lembaga Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.

Tuntutan yang diajukan oleh masa aksi adalah sebagai berikut:

  1. Presiden Mahasiswa harus mempertanggung jawabkan atas komitmen yang disepakati dengan DPM dan mahasiswa tentang audiensi kinerja BEM-U yang sedang menjabat.

  2. Apabila Presiden Mahasiswa sudah tidak sanggup untuk melaksanakan tanggung jawabnya dan tidak dirasakan kinerjanya oleh mahasiswa, mundur secara terhormat dari jabatannya.

  3. Bidang Kemahasiswaan Unswagati sebagai Pembina Kemahasiswaan harus bertanggung jawab dengan kinerja BEM-U.

  4. Lembaga Universitas Swadaya Gunung Jati harus memberikan sanksi terhadap Presiden Mahasiswa terkait komitmen yang dilaksanakan dengan alasan yang tidak rasional dan bukan alasan untuk kepentingan mahasiswa.


“Kami tidak akan berhenti menyuarakan tuntutan kami atas permasalahan ini, apabila Lembaga Unswagati tidak dipenuhi,” tegas Hanif Koordinator aksi kepada setaranews.com untuk mempertegas tuntutan yang dituangkan dalam aksi.

Reporter: Haerul Anwar

Mahasiswa Ancam Segel Sekretariat BEM-U

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Suasana aksi yang terjadi di kampus utama Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon (Unswagati)  pada Kamis (07/04) semakin memanas akibat kekecewaan mahasiswa terhadap Presma yang tidak menghadiri dan memfasilitasi audiensi bersama dan lebih memilih menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Lombok Bersama wakilnya.

“Kami mengatas namakan mahasiswa akan menyegel sekretariat BEM-U sebagai rasa kekecewaan kami atas kelakuan Presma yang lebih mementingkan menghadiri Rakernas ketimbang menghadiri serta memfasilitasi audiensi bersama mahasiswa, padahal surat audiensi yang kami layangkan sudah ditanda tangani olehnya,” Tegas Hanif, Koordinator Aksi.

Terjadi sedikit keributan antara BEM-U terkait penyegelan paksa Sekretariat BEM-U, namun suasana sedikit mereda ketika Wakil Rektor III mendatangi mahasiswa di sekretariat BEM-U.

Dudung Hidayat selaku Wakil Rektor III menentang akan penyegelan sekretariat BEM-U, “Saya menentang penyegelan paksa yang dilakukan beberapa mehasiswa ini, karena sekretariat BEM itu milik Lembaga dan saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas sekretariat ini, kalo memang mereka merasa kecewa sama kerja Presma yang lebih memilih menghadiri Rakernas di Lombok, ya tidak usah menyegel sekretariat karna penyegelan sekretariat akan menghambat kinerja kabinet lainnya yang menduduki BEM-U,” ujarnya.

“Kalau memang kalian menginginkan audiensi bersama Presma dan seluruh jajaran BEM-U, nanti kita lakukan audiensi pada Senin (11/04) karena kami rekomendasikan Presma dan Wapresma menghadiri Rakernas di Lombok sampai 10 April mendatang, tidak harus menyegel sekretariat BEM-U” Pungkasnya.

Akhirnya mahasiswa menyetujui audiensi dilakukan pada Senin (11/04) dan Sekretariat BEM-U batal disegel mahasiswa.

Reporter: Haerul Anwar (Awank)

Aneh, SK BEM FISIP Habis tapi Bisa Melaksanakan Kegiatan

Tidak ada komentar
Unswagati Cirebon, Setaranews.com - Surat Keputusan (SK) organisasi di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) telah usai masa kepengurusannya Maret silam. Namun, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) masih diperbolehkan mengadakan acara, hal tersebut mendapatkan pertanyaan dari berbagai pihak.

Seperti yang disampaikan oleh mantan ketua BEM Ilham, Ia mengakui bahwasannya SK kepengurursannya sudah habis. Namun, dikarenakan ada beberapa proker yang belum terlaksana maka pengurus sepakat untuk mengadakan acara seminar tersebut.

”SK sudah habis maret kemarin tapi seluruh pengurus sepakat untuk menyelesaikan semua proker, baru setelah itu LPJ” Ujar Ilham kepada setaranews, Kamis (7/4).

Lanjut Ilham, BEM FISIP mengadakan serangkaian acara seperti Seminar dan Festival Band. Acara tersebut, kata Dia,  memang sudah ditarget akan terlaksana April walaupun sempat menimbulkan perdebatan yang terjadi di internal pengurus BEM.

“Tujuannya adalah melakukan kegiatan mahasiswa dan melakukan pengabdian melalui budaya jadi diputuskan untuk tetap dilaksanakan, tidak ada beban, tidak ada berbicara masalah SK dan lain-lain” tambahnya disela - sela seminar.

Dikatakan Ilham, apabila pihak Fakultas tidak memberikan ijin dan tiba - tiba membatalkan acara maka Fakultas telah melakukan kesalahan, karena telah membatasi kegiatan mahasiswa.

“Fakultas telah mengijinkannya. Persiapan sudah dimulai desember, jika ditengah-tengah proses tiba-tiba dipotong maka bidang kemahasiswaan telah melakukan kesalahan” imbuhnya.

Acara seminar tersebut mengangkat tema “Membangun Kembali Budaya Cirebon yang Tertidur” dilaksanakan di gedung pemuda KNPI, yang berlangsung dari pukul 08.00 sampai 13.00 WIB.

Jurnalis: Tuti Andriyani

Editor: Epri Fahmi Aziz

DPRD Diminta Tegas Apabila Rekomendasinya Tidak Dihiraukan oleh Pemkab

Tidak ada komentar

Rabu, 06 April 2016

Sumber Cirebon, setaranews.com - Pemuda dan masyarakat mempertanyakan apabila surat rekomendasi dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cirebon tidak diindahkan oleh Pemkab (Pemerintah Kabupaten). DPRD harus memiliki sikap tegas apabila rekomendasinya tidak dihiraukan oleh Pemkab. Bisa dengan menggunakan hak angket atau interpelasi.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu perwakilan pemuda, Jalil, tidak lantas tugas pokok dan fungsi serta tanggung jawab DPRD selesai begitu saja ketika telah mengeluarkan surat rekomendasi tersebut.

"Jangan kemudian gugur semua tugasnya ketika mengeluarkan rekomendasi tersebut. Batas waktunya sampai kapan, dan apabila tidak dihiraukan oleh pemkab bagaimana sikap DPRD? Harus tegas," ungkapnya kepada setaranews, rabu (06/04).

Jalil menambahkan, apabila Pemkab tidak menghiraukan rekomendasi dari DPRD maka secara tidak langsung telah menghina lembaga perwakilan rakyat tersebut. Bagaimanapun DPRD adalah lembaga yang memiliki otoritas untuk mengontrol Pemkab.

"Walaupun sifatnya hanya saran, apabila tidak didengar oleh Pemkab, berati sudah menghina. Keberadaan DPRD tidak dianggap. Seharusnya DPRD melakukan langkah selanjutnya, sebagai bentuk kontrol terhadap Pemkab." Pungkasnya.

 

Menolak Relokasi, Ini Isi Poin Rekomendasi DPRD Kepada Bupati

Tidak ada komentar
Sumber Cirebon, setaranews.com - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cirebon mengeluarkan surat rekomendasi kepada Bupati Cirebon. Dalam surat rekomendasinya tersebut,  DPRD menegaskan bahwa Pemkab harus membangun pasar dibekas pasar lama (Revitalisasi).

Berikut ini isi poin - poin  rekomendasi dari DPRD kepada Pemkab Cirebon:

  1. Bahwa kebakaran pasar sumber adalah kejadian bencana yang perlu penangan serius dengan menetapkan langkah - langkah kongkrit dalam rangka menjamin pemulihan siklus eknomi masyarakat setempat berupa pembangunan kembali melalui revitalisasi Pasar Sumber di temapt semula.

  2. Bahwa kegiatan Fisibility Study (F.S) sebagai upaya prasarat kegiatan relokasi Pasar Sumber agar dihentikan. Mengingat pembangunan kembali pasar sumber diarahkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya para pedagang Pasar Sumber dengan memperhatikan dan menjamin hak - hak pedagang untuk mencari penghidupan yang layak, adil dan berkelanjutan yang bersinergi dengan arus sosial ekonomi masyarakat sekitar.

  3. Bahwa pengalokasian pembangunan Pasar Sumber apabila bersumber dari dana APBD Kabupaten Cirebon, agar Pemerintah Daerah segera menyusun rencana anggaran yang ditetapkan dalam RKPD tahun 2017.

  4. Agar memperhatikan aspirasi yang terkait dengan konpensasi atau kebijakan lain dan mengupayakan pemenuhan perhatian para pedagang yang mengalami kerugian baik materil maupun formil sesuai dengan mekanisme dan peraturan perundang - undangan yang berlaku.

Terkait Relokasi, DPRD Harus Berani Menyatakan Sikap Secara Tertulis

Tidak ada komentar

Selasa, 05 April 2016

Sumber Cirebon, setaranews.com - Pedagang pasar sumber bersama berbagai elemen masyarakat, pemuda dan mahasiswa menantang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk berani menyatakan sikap secara tertulis memberikan dukungan penolakan relokasi terhadap pasar sumber. Namun, DPRD tidak berani dan hanya bisa melakukan rekomendasi kepada Pemkab.

Seperti yang diungkapkan juru bicara Gerakan Pemuda Pasar Sumber (GPPS) pada saat Audiensi bersama DPRD,  Jalil menekankan kepada DPRD untuk tidak hanya dalam ucapan apabila benar - benar mendukung dengan revitalisasi. Kata dia, DPRD harus berani menandatangani keepakatan dengan pedagang untuk menolak relokasi. Apabila Pemkab ngotot, seharusnya DPRD bisa menggunakan hak, peran dan fungsinya, bisa dengan hak angket atau interpelasi.

"Jangan cuman dari mulut saja, harus berani menyatakan sikap secara tertulis. Itu bukti bahwa DPRD berpihak kepada masyarakat. Kalau masyarakat melakukan gugatan clas action, lalu untuk apa punya lembaga DPRD, untuk apa peran, fungsi dan haknya selaku DPRD," pungkasnya pada saat Audiensi dengan DPRD Kabupaten Cirebon, Senin (4/4).

Jalil menegaskan bahwa Ia bersama para pedagang akan tetap memperjuangkan revitalisasi untuk pasar lama. Kata dia, apabila Pemkab tetap ngotot dengan relokasi yang jelas - jelas tidak sesuai dengan perundangan yakni Permendagi no 61 tahun 2015 maka para pedagang akan menggugatnya.

“Kita menggugat Relokasi ini karena di dalam bantuan seharusnya bukan relokasi tapi seharusnya revitalilasasi,” tegas Jalil.

Dilain pihak DPRD Kabupaten Cirebon pada dasarnya sepakat dengan para pedagang untuk tidak adanya relokasi pasar sumber ke daerah Kenanga. Berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku, DPRD menilai seharusnya Pemkab melakukan revitalisasi bukan relokasi.

Ketua DPRD H. Mustopa mengatakan, dikarenakan pasar sumber lama mengalami bencana dalam hal ini yaitu kebakaran, menurutnya tidak perlu adanya kajian - kajian. Ia mengaskan, bagaimanapun pasar harus tetap dibangun di pasar lama. Kata dia, apabila bantuan dari pusat tidak cukup bisa menggunakan dana cadangan yang sudah diperuntukan apabila terjadi bencana yang dianggarkan dalam APBD.

“ Kalau tidak cukup bisa menggunakan dana cadangan, anggarannya ada dalam APBD. Bahwa revitalisasi pasar  tidak perlu adanya kajian  lagi, karena pasar dalam hal ini terkena bencana(kebakaran) seperti mana yang telah  di tuliskan oleh Undang-undang. pasar harus di bangun di pasar lama. Kita akan merekomendasikan kepada Pemkab,” Ujarnya pada saat Audiensi bersama perwakilan pedagang, pemuda dan mahasiswa, Senin (4/4).

Jurnalis: Adrian Nurwansyah

Editor: Epri Fahmi Aziz

 

BEM-U akan Mengkordinir Petisi Penolakan Biaya Heregistrasi

Tidak ada komentar

Senin, 04 April 2016

Unswagati,Setaranews.com- Badan Eksekutf Mahasiswa Universitas (BEM-U) melakukan konsolidasi yang tergabung dalam Focus Group Discussion (FGD) terkait pernyataan sikap penarikan dana heregristrasi mahasiswa angkatan 2015, konsolidasi BEM-U dihadiri oleh kisaran 30 mahasiswa yang bertempat di aula lantai dasar kampus satu universitas swadaya gunung jati (UNSWAGATI) Cirebon pada senin (04/03).

Konsolidasi yang dilakukan oleh BEM-U bertujuan untuk mempertegas serta melanjutkan pernyataan sikap penolakan melalui petisi  terkait masalah penarikan heregristrasi yang diberlakukan bagi  mahasiswa angkatan 2015

“kami menoak adanya penarikan dana heregristrasi terhadap mahasiswa tingkat satu, maka dari itu kami adakan konsolidasi dengan mahasiswa tingkat satu dan kami undan juga seluruh ormawa yang ada di universitas, guna untuk membangun pernyataan sikap bersama seluruh mahasiswa terkait penolakan dana heregristrasi terhadap mahasiswa tingkat satu dengan cara menyerahakan petisi dan data penolakan mahasiswa tentang biaya heregristrasi itu kepda pihak unuversitas” tegas Ikhsan Amala Presma Unswagati.

“Kami akan terus memperkuat pernyataan sikap penolakan heregristrasi terhadap mahasiswa angkatan 2015 apabila pihak Universitas tidak menghapus penarikan dana heregristrasi” lanjutnya mempertegas pernyataan penolakanya.

Reporter: Haerul Anwar (Awank)

Save Pasar Sumber, GPPS Tolak Relokasi

Tidak ada komentar

Sabtu, 02 April 2016

Sumber Cirebon, Setaranews.com- Mengenai wacana relokasi pasar sumber  mendapatkan penolakan dari berbagai elemen masyarakat dan pedagang. Masa yang tergabung dalam  Gerakan Pemuda Pasar Sumber (GPPS) dengan tegas menyatakan sikap menolak relokasi adalah harga mati dan menuntut untuk segera dilakukan revitalisasi pasar.

Seperti yang diungkapkan juru bicara aksi, Jalil, bahwa argumentasi Bupati Cirebon yang mengatakan untuk mendapatkan bantuan penuh dari pemerintah pusat untuk pembangunan pasar harus sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh pusat. Menurut Jalil, argumentasi bupati tersebut tidak berlandaskan aturan apapun.

"Argumentasi Bupati hanya asal bicara saja, tanpa dilandasi aturan yang baku. Ada apa, ko ngotot relokasi? yang pedagang jelas - jelas menolaknya. Relokasi bukan solusi, harusnya revitalisasi," ujarnya kepada setaranews disela - sela aksi, Sabtu (02/04).

Lebih lanjut Jalil menjelaskan, berdasarkan Permendagri No 61 tahun 2015, dalam pasal 3 ayat 2 menyebutkan bahwa kriteria pasar rakyat (tradisional) adalah pasar yang memenuhi luas lahan minimal 5000m, jumlah pedagang minimal 750, operasional pasar harian dan terletak di Kabupaten/kota.

"Dengan aturan tersebut argumentasi bupati bisa dibantah. Pasar sumber sudah masuk kriteria yang sesuai dengan peraturan perundang - undangan. Pasar sumber memiliki luas 5000m, dengan jumlah pedagang lebih dari seribu. Sudah masuk dalam kriteria pasar dengan tipe A," jelasnya.

Tak hanya itu, Jalil pun menuturkan, Kementrian Perdagangan (Kemendag), memberikan sejumlah syarat khusus untuk revitalisasi pasar. Sarat itu, kata Dia, yakni mendahulukan pasar yang terkena bencana, seperti kebakaran. Dalam meminta bantuan dana, pasal 7 aturan yang sama menjelaskan bahwa pasar yang termasuk kriteria tipe A untuk anggaran revitalisasi menggunakan dana tugas bantuan yang bersumber dari APBN.

"Pasca terjadi kebakaran, seharusnya Pemda langsung mengumpulkan sarat dan kemudian mengajukan ke pusat. Pemda sebagai pemohon cukup melampirkan bukti dari instansi yang berwenang bahwa kebakaran bukan karena faktor kesengajaan. Ini sudah 9 bulan tapi belum juga ada kepastian, ada apa? Kenapa ngotot untuk relokasi," tukasnya.

Jalil justru mencurigai dibalik ngototnya Pemkab ada kepentingan tertentu. Ia menghawatirkan jangan - jangan pasar sumber yang lama akan dijadikan atau disulap menjadi pasar modern, seperti beberapa kasus didaerah - daerah lain.

"Ada kepentingan apa, jangan - jangan mau disulap menjadi pasar modern seperti mall, departement store dll,  seperti yang terjadi dibeberapa daerah. Itu jangan sampai terjadi, kita akan tetap memperjuangkan pasar lama, aksi akan terus dilakukan dengan jumlah masa yang akan terus meningkat," pungkasnya.

Reporter: Khairul Anwar

Editor: Epri Fahmi Aziz

Fotografer: AdrianN

 

ORMAWA Dilingkungan FISIP Terancam Tidak Melaksanakan LPJ

Tidak ada komentar

Jumat, 01 April 2016

Unswagati Cirebon, setaranews.com – Ormawa dilingkungan FISIP Unswagati terancam tidak melaksanakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), sebagai bentuk pertanggung jawaban atas kegiatan yang telah dilakukan selama satu periode kepengurusan. Hal tersebut dibuktikan dengan surat pengunduran diri dari ketua DPM sekaligus pernyataan tidak bisa menjalankan tugas yang salah satunya menggelar LPJ bagi ormawa dilingkungan FISIP, dalam hal ini BEMF.

Menindak lanjuti surat pengunduran diri dari ketua DPMF Ahmad Saehu, pihak fakultas melalui WD III menggelar rapat ormawa yang dihadiri oleh perwakilan ormawa di lingungan FISIP. Dikatakan oleh Wakil Dekan III Fisip Khaerudin Imawan, pertemuan tersebut membahas langkah yang akan diambil.

“Pengunduran diri dari Ahmad Saehu yang diterima fakultas tanggal 15 Maret lalu. Pengunduran ini dikarenakan Ketua DPMF sibuk kerja dan tidak adanya anggota yang lain,” ujarnya kepada setaranews, Jumat (01/04), ketika ditemui di ruang rapat serbaguna FISIP.

Lebih lanjut, Khaerudin menuturkan DPMF merupakan lembaga yang memfasilitasi terlaksananya LPJ bagi ormawa dilingkungan FISIP. Dalam rapat tersebut ormawa akan melaksana musyawarah untuk menentukan siapa yang akan menjadi presidium. Presidium itu sendiri,

“Perwakilan ormawa-ormawa yang bertanggung jawab seperti DPMF untuk menghasilkan proses LPJ. Perwakilan tadi akan melakukan musyawarah untuk menentukan siapa yang akan dijadikan pimpinanannya, istilahnya presidium,” katanta.

Dalam surat yang diajukan, ketua DPMF pun meminta maaf  mengenai tidak adanya LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) yang dibuat dan tidak adanya kegiatan apapun yang dibuat oleh DPMF. Selama proses permusyawarahan berlangsung, fakultas akan memfasilitasi semuanya “fakultas tidak punya hak suara, silahkan mereka urus sendiri, kita hanya memfasilitasi. Penentuan ketua ya terserah mereka”. Lanjutnya.

Dilain pihak, kritik pun datang dari mahasiswa FISIP itu sendiri, Hasbi, Ia mengatakan apabila DPMF mengundurkan diri kemudian tidak melaksanakan LPJ, lantas bagaimana proses LPJ bagi ormawa yang lain. Kata dia, jangan sampai ormawa lainnya pun tidak melaksanakan LPJ.

“Tidak lantas dengan adanya surat tersebut kemudian selesai perkara, LPJ ormawa lainnya bagaimana? Kalau mau dibentuk presidium pun hal pertama yang harus dilakukan yaitu menggelar LPJ untuk BEM dan ormawa yang lain, baru kemudian mengantarkan terbentuknya BEM dan DPM yang baru,” pungkasnya.

Jurnalis: Tuti Andriyani

Editor: Epri Fahmi Aziz
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews