Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Opini: Mengevaluasi Kondisi Kampus

Sabtu, 26 November 2016

/ by BW
Opini, Setaranews.com - Kampus bukan miniatur negara, tapi kampus adalah sumber inspirasi di mana  negara akan mengadopsi suatu tatanan, dari yang struktur sampai dengan yang sosial. Artinya, tata cara kehidupan kampus harusnya lebih maju dibanding tata cara kehidupan bernegara.

Pada titik itulah kita bersepakat, karena kampus adalah ruang para kaum terpelajar. Di mana bermacam-macam ide dan gagasan tumpah ruah. Bahkan, kampus ada pada titik puncak di mana ketika orang ingin cerdas hanya butuh sebuah kemauan.

Tapi sayang, suasana demikian tak dapat kita tuai. Kampus saat ini seperti menjadi sumber bagaimana kebodohan terus diproduksi. Hal demikian terditeksi dari argumen-argumen yang saat ini telah  menjadi suasana. Dan sialnya, suasana itu kini membeku menjadi batu.

Sungguh, tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa demokrasi yang saat ini dikelola kampus adalah demokrasi murahan yang diadopsi dari pemilihan pilkada. Dimana jargon dan baliho tampak sama; berjejer memenuhui wajah kampus dengan penyanggah yang morat marit.

Penampakan itu lebih terasa sebagai polusi dibanding sebagai simbol kecerdasaan kaum terpelajar. Oleh sebab itu, pada momentum inilah mestinya nalar kampus perlu diperiksa. Dengan titik berangkat, ada perjalanan mundur yang saat ini sedang ditempuh.

Suasana di kampus hari-hari ini seperti layaknya kaum fundamentalis melawan hukum evolusi, tak masuk akal tapi terus dilawannya. Hal ini bukan tanpa konsekuensi, yang paling mudah dirasakan adalah kehancuran visi individu-individu yang ada di dalamnya, mahasiswa.

Bagaimana mungkin individu-individu di dalam kampus akan mengatahui kondisi rill politik -  demokrasi di kemudian hari, jika apa yang dikerjakan hari-hari ini adalah apa yang diadopsi pada level yang sama. Artinya, selama ini ada yang absen dalam proses berpikir kita yaitu analisis —yang tajam terhadap yang rill. Apalagi membicarakan sesuatu yang abstrak. Imajinasi kita lumpuh. Karena tak bisa membayangkan sesuatu yang baru di dalam kehidupan kampus.

Pengadoptasian tersebut adalah sinyal bahwa kampus selama ini telah gagal membuka jalan baru. Jalan yang seharusnya menjadi kemungkinan di kemudian hari, yaitu jalan menyusuri peradaban politik – demokrasi yang jauh lebih bermutu.

Harus ada evalusi dan refleksi untuk mengubah arus tersebut.  Ini demi kelangsungan intelektualitas yang menjadi cermin kehidupan kampus. Kampus tak bisa dikelola oleh semacam grombolan yang beringas. Jika ada persoalan yang didahulukan adalah otot bukan otak.

Kampus sebagai identitas teritinggi dengan MAHA-nya tak boleh tergelincir pada suanana tersebut, hanya karena dia berani dan banyak lantas manjadi simbol kekuatan. Seperti kondisi rill politik – demokrasi yang saat ini berlangsung.

Kampus adalah ruang dimana individu-individu yang ingin melibatkan diri, yang mewakili dirinya sendiri. Tak mewakili atas nama kelompok dan  ideloginya. Untuk terus bertransaksi satu sama lain dengan mata uang yang sama yaitu, kecerdasaan. Bukan kekuatan.

Apabila jika ditarik pada kondisi politik – demokrasi peradaban Yunani, pemilihan seorang walikota hanya butuh diundi. Karena pada kondisi saat  itu sangat memungkinkan bahwa siapapun nanti yang akan terpilih, demokrasi akan tetap memproduksi keadilan.

Artinya, kampus sebagai ruang indvidu-individu cerdas, tak selayaknya memiliki ambisi terhadap kekuasaan. Karena pada dasarnya demokrasi bukan ruang untuk mencari orang yang terbaik, melainkan sebagai ruang untuk hidup bersama.

Di mana ruang hidup bersama itu terus mencapai konsensus dan kehormatanya sebagai mahasiswa. Bisa memperolah haknya untuk tumbuh sesuai yang diinginkannya dengan fasiltas-fasilitas yang harus diperolehnya, seperti ruang-ruang akademik, ruang-ruang kreatifitas dan seni. Ruang yang seharunsya bisa ditransaksikan secara bermutu. Ruang dimana ide dan gagasan bisa berselancar dengan luas. Bukan ditransaksikan melalui  intrik.  Ruang yang penuh dengan kepungan grombolan yang hipokrit.

Untuk itu, harus ada jalan ketiga untuk bisa melawan arus itu. Hal yang paling memungkinkan adalah membuka diskursus-diskursus dan ruang-ruang wacana dengan kedispilinan akademik yang ketat. Hal demikian untuk memperoleh sumber kelimuan yang bermutu. Bukan sumber yang asal bunyi.

Karena jika dibiarkan,  bukan tidak mungkin kondisi di masa depan akan lebih buruk dari saat ini. Bukan hanya bagi kampus, tapi juga bagi kehidupan bernegara di masa depan. Posisi demikian adalah bentuk perlawanan terhadap suasana. Bukan terhadap orang.

Penulis: Kris Herwandi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews