Responsive Ad Slot

Ihsan-Okta Pimpin Mahasiswa Unswagati Setahun Kedepan

Tidak ada komentar

Jumat, 23 Oktober 2015

Unswagati-Setaranews.com Pemira Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) rampung di gelar. Total sebanyak 1471 mahasiswa pergi ke TPS di masing-masing kampus untuk memberikan suara mereka. Kandidat nomer urut satu Ihsan-Oktaviandi  yang kemudian keluar sebagai pemilik suara mahasiswa terbanyak dengan 722 suara di ikuti kandidat nomer urut tiga Irgin-Surya dengan jumlah suara masuk 565 suara. Terakhir nomer urut dua Warsono-Jaka yang memperoleh 184 suara.

Sementara itu untuk pilihan partai. Partai persaudaraanlah yang kemudian memiliki suara terbanyak dengan 717 suara menungguli partai pendidikan yang punya suara sebesar 679. Namun demikian pilihan partai ini nampaknya memiliki suara sah yang lebih sediikit ketimbang pilihan Presiden mahasiswa. Total pemilih untuk partai ada 1396 suara.

Surat suara tidak sah di Pemira kali ini ada 70 untuk segmen pilihan Presma dan 131 suara tidak sah untuk pllihan parta. Sementara surat suara yang blangko ada 23.

Ihsan dan Okta  nantinya akan resmi dilantik oleh rektor Unswagati pada Senin 26 Oktober. Sedangkan partai Persaudaraan berhak atas 60% kursi Dewan Perwakilan Mahasiswa sedangan 40% sisanya milik parta Pendidikan.

Menunggu Suratmu

Tidak ada komentar
Kala itu mangrove berdiri jajar mengamati perjalanan

Ditemani karang yang memuntahkan suara ombak kecil nan lembut

Sedang aku menunggu suratmu

Lewat petikan-petikan ilalang yang kucabuti sepanjang jalan

Ketika kita melangkah di tepian pantai,

Siang itu

Kau ingat?

Hmmm anginlah dan aku sepertinya yang lebih pandai menyimpan itu

Menyimpan apa?

Tentu saat itu desir menangkap apa dalam jelaga otak

Maksudnya jelaga ?

Ahh itu hanya bisa dijelaskan dalam semadi saja yang kadang sulit sampai pada tutur kata

Ahh itu hanya bisa dijelaskan dalam semadi saja yang kadang sulit sampai pada tutur kata

 

Tak Sampai 50% Mahasiswa FKIP yang Menggunakan Hak Suaranya

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Antusiasme mahasiswa terhadap pemilihan presiden dan wakil presiden Universitas Swadaya Gunung Jati yang dilaksanakan serempak di kampus I, kampus II dan kampus III Unswagati pada Kamis (22/10).

Khususnya di kampus dua, Pemilihan Umum Raya (Pemira) dilaksanakan mulai pukul 09.15 s.d 15.00 WIB. Dari 1934 mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) hanya 302 mahasiswa yang ikut berpartisipasi mengeluarkan hak suaranya dalam pemira, jumlah tersebut bahkan kurang dari 50% dari jumlah seluruh mahasiswa FKIP, “Kebanyakan yang ikut nyoblos tingkat tiga dan tingkat empat, yang tingkat satunya tidak ikut nyoblos dengan berbagai alasan seperti KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) yang belum jadi, kartu perpustakaan yang belum jadi, sebenarnya juga bisa dilihat dari NPM, dari pusdat juga kita cek, tapi dari anak-anaknya aja keinginan mereka buat ikut berpartisipasinya sedikit, lebih memilih pasif.” ujar Lia Andriani selaku Panitia Pemilihan Umum Mahasiswa (PPUM).

Antusisme mahasiswa dalam mengeluarkan suara meningkat dibandingkan Pemira sebelumnya, “sambutan mahasiswa terhadap pemira ya lumayan sih, itu juga kata kakak tingkat kalau dibandingkan dengan tahun kemarin tahun sekarang lebih banyak yang aktif, soalnya tahun kemarin kebanyakan pasif.” tambahnya.

Hanya 666 Pemilih, Ketua TPS I Sebut Jumlah Pemilih Kurang dari Harapan

Tidak ada komentar
Unswagati-Setaranews.com, Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang diadakan siang tadi, Kamis (22/10) berlangsung aman dan lancar. Pihak panitia telah menyediakan tiga Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menampung hak mahasiswa dalam memilih pemimpinnya yang masing-masing berada di kampus I, kampus II dan kampus III Unswagati.
TPS di kampus I sendiri bertempat di halaman parkir depan koperasi mahasiswa, hal ini diharapkan dapat menarik perhatian mahasiswa untuk ikut memilih pemimpinnya. Tingkat antusias mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi kali ini dinilai cukup meski jauh dari harapan.
“Antusias sih cukup tapi kurang dari harapan, mungkin karena sosialisasinya juga kurang.” Ujar Muhammad Saeful Rahman, Ketua TPS I saat ditemui setaranews.com.
Berdasarkan survei yang telah dilakukan tim setaranews.com dari 100 mahasiswa secara acak, ditemukan 90% mahasiswa yang menganggap sosialisasi pemira tahun ini kurang efektif. Hal ini nyata dibuktikan saat pemira dilaksanakan, hanya ada 666 mahasiswa yang ikut berpartisipasi memilih di kampus I padahal ada 3000 lebih mahasiswa Fakultas Ekonomi yang terdaftar menjadi pemilih tetap, jumlah tersebut belum dikalkulasikan dengan mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik yang memang terdaftar di TPS I.
Terlepas dari jumlah pemilih yang kurang dari harapan, melalui pemira ini mahasiswa menginginkan pemimpin baru yang lebih baik dari sebelumnya.
“Mudah-mudahan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, lebih bertanggungjawab dan lebih loyal aja.” Tutupnya.

Budaya Kaum Intelektual

Tidak ada komentar

Kamis, 22 Oktober 2015

Opini, Akhir – akhir ini saya sering menemui gagasan – gagasan yang tidaklah rasional di kalangan akademisi. Salah satu Pendapatnya mengenai cara berpkaian dan keharusan berpenampilan di lingkungan dan kehidupan kampus yang hanya di tinjau dari prespektif pribadinya. Bukan berarti saya manusia yang anti kritik, tetapi pendapat – pendapat mengenai budaya keharusan berpakaian itu begitu menggangu dan menyengat dikepala. Pasalnya banyak hal yang melatar belakangi ketidak setujuan saya terhadap persoalan ini. Padahal banyak persoalan yang lebih Urgen yang harus dibahas,  dikritisi dan diberikan solusi oleh mahasiswa dan akademisi. Misalnya Persoalan penegakan Hukum Agraria Di bidang Pertanian, Terwujudnya ekonomi Kolektif di bidang ekonomi, Penegakan Hukum yang Tidak adil di Bidang Hukum, Konglomerasi Pendidikan dan lain – lain. Ada apa dengan pemikiran dan budaya yang di pahami oleh masyarakat Kampus, Khususnya Mahasiswa?

Universitas atau institusi pendidikan seyogyanya adalah tempat bagi manusia untuk mencerdaskan dan memerdekakan pemikiran. Di ajarkan berfikir Dengan cara – cara yang rasional dan empiris, lewat metode – metode yang mendidik dan membangun moral manusia. Sehingga yang dihasilkan adalah manusia yang mampu dan menjadi lebih Arif menjawab persoalan dan tantangan Pembangunan Manusia. Dalam mewujudkan lingkungan Pendidikan yang ideal haruslah tercipta budaya kaum intelektual yaitu budaya Literasi (Baca, Diskusi dan Tulis), yang jelas tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ( Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian). Lalu kenapa masyarakat Intelektual, Masrakat Kampus, kaum Akademisi lebih suka menyorot dan mensensor masalah berpakain? Memang benar pada realitanya kebanyakan manusia menilai segala sesuatu dari penampilan atau kulitnya, jarang menilai sesuatu dari substansinya. Tetapi Saya kira  dengan arif bagi masyarakat  Akademisi yang telah melaksanakan budaya Literasi atau Mengimplementasikan Tri Dharma, persoalan penampilan harus seperti apa dan bagai mana, hanyalah persolan subject dari tiap individu. Toh letak sopan santun, tatak rama, etika setiap manusia memilki cara yang berbeda. Yang jelas tidak melanggar sopan santun yang disepakati masyarakat indonesia secara luas. Dari pada Kita lantang memangkas kebebasan berekpresi dan mengatur manusia lain yang hanya mengkritisi kulitnya, Alangkah lebih bijak jika kita semua terus mengingatkan untuk tetap membudayakan budaya literasi yang mulai terkikis punah. Tentunya Agar tempurung kepla kita tetap sehat dan mampu mebedakan mana prioritas yang utama dan mana yang tidak terlalu penting.

Jika kita belajar dari sejarah bangsa ini mengenai perjuangan Mahsiswa dan Pemuda begitu kental dengan aroma kritik tajam dalam perjuangan melawan penindasan dan penghisapan . Di era Awal Gerakan Pemuda dan Mahasiswa di tahun 1908 Budi Utoemo begitu gencar mengkritisi Pemerintahan Belanda, Perhimpunan Indonesia  mengeluarkan manifesto 1925, di era 1928 Mahsiswa dan Pemuda berhasil melaksanakan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda, pemuda berhasil mendesak Sukarno untuk mendeklarasikan kemerdakaan pada tahun 1945, di tahun 1966 Soe Hok Gie dengan Berani menginspirasi Perlawanan Terhadap  Pemerintahan yang sewenang – wenang, di tahun 1974 terjadi peristiwa Berdarah Malari, di mana mahasiswa dan Pemuda Menentang Keras Kediktaktoran Pemerintah, 1998 terjadi Reformasi mahasiswa bersatu menggulingkan Rezim Suharto yang Korup. Tentu yang diharapkan Founding Father kita terdahulu seperti Sjahrir dan Hatta Tidak ingin Mahasiswa, Pemuda dan Kaum Intelektual menjadi bungkam dan apatis. Saya pribadi terkadang begitu sulit percaya dengan sejarah panjang perjuangan Kaum Intelektual yang begitu menyakitkan, melelahkan dan menelan Korban Jiwa. Saya meyakini ketangguhan hati dan pemikiran para kaum pembaharu, di karnakan proses intelektualisasi pemikiran serta penyadaran untuk melawan ketidak adilan yang nyata di depann mata. Hal tersebut bisa terwujud di karnakan budaya Literasi yang begitu populis di kalangan Pemuda dan mahasiswa. Karna kesadaran untuk melawan muncul dari pemikiran yang revolusioner yang di barengi wawasan luas. Pemikiran revolusioner ini muncul dari ruang –ruang dialektika kaum intelektual, dengan bersenjatakan wawasan yang komprehensif dan holistik.  sehingga menghasilkan ide – ide yang mampu  melawan kaum – kaum penindas, penghisap dan pembunuh rakyat.

Mari saudaraku,  kita berkaca bersama dan meluruskan kembali pemikiran kita sebagai manusia dan sebagai mahasiswa. Apa kah kita sudah memberikan kontribusi terhadap pembangunan Manusia? apakah kita sudah menjalankan Fungsi dan Peran Kita Sebagai Mahasiswa? Mari kita bersama mewujudkan Budaya Membaca, Berdiskusi, Menulis dan Melawan! Sehingga kita tidak buta dan Tuli dalam menghadpi persoalan Bangsa ini!

“Lekas Bangun dari Tidur Berkepanjangan.


Menyatakan Mimpi MU.


Cuci Muka Biar Terlihat Segar .


Merapikan Wajahmu


Masih ada cara menjadi Besar


Memudakan Tua Mu


Menjelma dan Menjadi Indonesia” – Efek Rumah Kaca



Penulis : Saeful Fatah Mahasiswa Fakultas Pertanian

Ketika Data Bicara: Hanya 52% Mahasiswa yang Tahu Pemira?

Tidak ada komentar
Unswagati-Setaranews.com Pemilihan calon presiden dan wakil presiden mahasiswa akhirnya di helat. Sempat tertunda beberapa bulan pesta demokrasi setahun sekali ini digelar juga pada 22 Oktober 2015 kali ini. Tiga pasang calon siap untuk dipilih. Bertarung visi dan misi untuk perbaikan Unswagati.

Akan tetapi nampaknya euforia demokrasi yang seharusnya dirasakan oleh segenap mahasiswa ini kurang terasa. Banyak mahasiswa aktif yang justru tidak paham kapan Pemira dihelat, siapa calon yang nanti akan dipilih. Dimana tempat pemungutan suara dan hal-hal lain yang berbau Pemira kali ini.

Hal ini di temukan Setara ketika mencoba melakukan survey pada 100 orang mahasiswa. 90% mahasiswa yang kami survey menganggap sosialisasi pemira sangat tidak efektif. Hanya 2% mahasiswa yang bilang sosialisasi Pemira ini efektif, sisanya bahkan tidak tahu aka nada Pemira.

Ada lagi yang menarik dalam survei kami, hanya 52% yang tahu akan ada Pemira dalam bulan ini, sisanya sama sekali tidak tahu akan dilangsungkanya Pemira.

Lebih lanjut masih dalam mensurvei 100 orang tadi, hanya 55% yang berniat untuk datang dan mencoblos calon pilihanya, sedang 28% masih ragu akan ikut mencoblos atau tidak dan 17% terang-terangan berujar tidak akan mecoblos.

Tapi untungnya para responden yang kami survey menganggap penting adanya Pemira ini. Tak tanggung-tanggung 86% mahasiswa menganggap penting Pemira dilaksanakan. Hanya 5% yang menganggap tidak penting. Selebihnya tidak tahu.

Namun mahasiswa berharap visi dan misi yang dilontarkan oleh para calon benar-benar terlaksana.  Sebanyak 40% berharap adanya program kerja yang lebih baik. 21% berharap siapapun yang jadi Presiden Mahasiswa dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya setahun kedepan.  Sebanyak 12% mahasiswa meminta siapapun yag terpilih bisa menampung aspirasi mahasiswa. 10% meminta Presiden mahasiswa dapat menyatukan seluruh Organisasi Mahasiswa. Sisanya tidak menjawab.

Data ini kami himpun dari sampel yang kami pilih secara acak dari setiap fakultas di Unswagati. Pemira sudah barang tentu menjadi harapan dan titik balik untuk kampus yang lebih baik.

 

Debat Capresma dan Cawapresma Berlangsung Aman

Tidak ada komentar

Selasa, 20 Oktober 2015

Unswagati, Setaranews.com Debat calon presiden dan calon wakil presiden mahasiswa Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang dilaksanakan pada Senin (19/10) berlangsung aman dan lancar. Acara yang dimulai pukul 10.00 ini menghadirkan tiga pasangan capres dan cawapres yang telah lolos seleksi, di antaranya ada pasangan Ihsan di urutan pertama, Warsono yang tercatat di nomor dua serta Irgan yang mendapat urutan ketiga.
Acara yang berlangsung di Denpom ini dihadiri sekitar 55 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan beberapa perwakilan dari staff kemahasiswaan. Melalui acara debat ini mahasiswa dapat mengenali calon pemimpinnya dengan baik sehingga dapat menentukan pilihannya secara tepat.
“Yang saya dapat dan mungkin kawan-kawan lain yang datang ketika debat kandidat adalah kita bisa menilai siapa yang sudah benar-benar siap menjadi Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa melalui jawaban atau pun perkataan yang dilontarkan para kandidat ketika debat.” Ujar Khory, mahasiswa fakultas Ekonomi yang mengikuti jalannya acara.
Acara debat Capresma dan Cawapresma ini digelar untuk mengawal pesta demokrasi yaitu Pemilihan Raya yang akan berlangsung pada Kamis (22/10). Dari Pemira tersebut akan ditentukan Presma dan Wapresma yang akan menjadi pemimpin Badan Eksekutif Mahasiswa Unswagati.
“Saya berharap kepada mahasiswa agar dapat ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi di kampus kita. Karena pemimpin yang akan terpilih nanti akan menentukan nasib masa depan kampus kita untuk minimal satu tahun ke depan.” Tutupnya.

Tanpa Dana Universitas UKM Tutorial Keislaman Adakan Seminar Umum

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tutorial Keislaman Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon mengadakan seminar umum pada Minggu (18/10) yang bertemakan “Membangun Pribadi yang Positif”. Acara ini dihadiri oleh 46 peserta yang terdiri dari berbagai universitas dan sekolah yang ada di Cirebon.

Dalam menyelenggarakan acara seminar  ini UKM Tutorial Keislaman tidak meminta dana dari Universitas, melainkan  mendanai sendiri,
“Kegiatan ini tidak meminta dari Universitas ya , dana kita sendiri dari tutorial sendiri” ujar kastono selaku ketua pelaksana, saat ditemui setaranews.com.

Menurut Kastono, jika meminta dana ke pihak universitas maka pihaknya harus memilih dan memaksimalkan acara yang akan diselenggarakannya, “kalau minta ke universitas kita lebih selektif, kalau kegiatannya benar-benar, kalau dananya dari universitas acara juga dimaksimalkan, peserta dipenuhi, gedungnya besar minimal kaya acara Tutorial Keislaman yang hari sabtu” tambahnya.

Bidang III Fisip Fasilitasi Perdamaian Kasus Pemukulan Ketua Himagara

Tidak ada komentar

Senin, 19 Oktober 2015

Cirebon, SetaraNews.com – Insiden pemukulan terhadap ketua Himagara dan AS (terduga pemukul) yang terjadi hari kamis (15/10) lalu telah mencapai kesepakatan damai melalui surat pernyataan antara kedua belah pihak.
Pihak dari AS menyadari kesalahan serta ketua Himagara sendiri menerima permintaan maaf dari pihak AS.
“bahwa si AS ini menyadari ada kesalahan, sementara ketua Himagara sudah menerima permohonan maaf” ujar Khaerudin Imawan M.I.Kom selaku wakil dekan III, saat ditemui setaranews.com diruangannya.
Dari Pihak wakil dekan III selaku kemahasiswaan memfasilitasi perdamaian antara ketua himagara dan AS serta melakukan pendekatan.
“kita lakukan pendekatan persuasif tanpa ada, intimidasi tanpa ada paksaan, yaa bidang tiga fisip memfasilitasi itu” ujarnya
Sejauh ini meski telah dilakukan perdamaian, namun proses hukum atau pemberian sanksi masih dilakukan. Dekan fisip berupaya membentuk tim khusus untuk menangani insiden pemukulan ini. Nantinya tim ini yang akan bertanggung jawab untuk pemperjelas proses kejadian tersebut.
“Sikap pak dekan tegas, apalagi sudah melanggar aturan hukum kita tegas, sanki itu harus diberlakukan aturan itu harus ditegakan” tutupnya.

Tak Mau Dukung Calon dari Fisip, Ketua Himagara Kena Pukul

Tidak ada komentar

Minggu, 18 Oktober 2015

Unswagati, Setaranews.com – Ketua Himagara (Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara) dipukuli oleh beberapa orang dari pihak BEM Fisip (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Poltik). Pemukulan terjadi  (15/10) di sekretariat Himagara lantai 2 Fakultas Hukum. Penyebab pemukulan menyangkut tentang pencalonan Cawapres (calon wakil presma) yang berasal dari Fisip,  “Kami sedang rapat lalu tiba-tiba AN datang menanyakan masalah pemilihan presma, suara anak himagara mau dibawa kemana, dari Fisip ada yang nyalonin kata AN” tutur Deni selaku ketua Himagara.

Pemukulan ini melibatkan empat orang. AN datang dan mengancam mahasiswa yang sedang berada di sekretariat Himagara untuk keluar meninggalkan ruangan dalam waktu lima menit, "belum lima menit tapi AN balik ke sekre Himagara lagi, anak-anak lain sudah keluar tetapi saya masih tetap disini, lalu AN masuk dan langsung memegang kerah baju saya sampai sobek, disitu ada AN, NA, IL, sama satu lagi saya tidak tahu namanya" tambah Deni saat ditanya mengenai kronologis kejadiannya.

Pemukulan ini mengenai kepala ketua Himagara sebanyak dua kali dan lebam di beberapa bagian wajahnya, "tiba-tiba ditubuh saya banyak tangan, terus saya berusaha lepas, saat itu ada yang mukul dari sebelah kanan lalu kena pukulan tersebut, dari sebelahnya lagi ada yang mukul juga, tidak lama dari pihak Fakultas datang buat misahin, saya langsung aja turun lari ke ruang tata usaha Fisip" ujarnya lagi.

Kejadian ini membuat ruang kesekretariatan Himagara rusak. Beberapa peralatan seperti sterofoam, whiteboard sudah tidak ada lagi di tempat semula, serta pintu yang dicoret dengan pilok. Sampai berita ini diturunkan, kami masih belum mendapatkan pernyataan dari pihak AN dan teman-temannya mengenai kejadian ini.

Tak Terima Anaknya Dipukuli, Orang Tua dari Ketua Himagara Siap Lapor Polisi

Tidak ada komentar
Unswagati, Setaranews.com- Pemukulan yang terjadi antara Ketua Himagara (Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara) dan beberapa pihak dari BEM FISIP (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Imu Sosial dan Ilmu Poltik) membuat orang tua dari Ketua Himagara tidak terima dan mengancam akan melapor polisi.

Mereka meminta agar pelaku datang ke rumah, “Orang tua saya tidak terima, dan bapak saya minta untuk nelfon AN, lalu bapak saya bilang ke AN supaya datang ke rumah kalau tidak nanti akan dilaporkan ke polisi” ujar Deni ketua Himagara saat ditanya mengenai respon orang tua terhadap kejadian ini.

Pada hari yang sama juga (15/10) AN beserta IL datang ke rumah ketua Himagara untuk meminta maaf. Permasalahan ini sudah mencapai kata damai dengan adanya surat pernyataan penyelesain antara dua pihak yang terkait.

Pemukulan yang menyangkut  hak suara pemilihan calon presiden mahasiswa dan wakilnya ini menjadi salah satu pemicu kejadian ini. Saat mediasi, pihak dari pelaku pemukulan ini justru mengatakan bahwa penyebab utamanya bukan karena pemilihan saja tetapi ada permasalahan lain.
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews