Responsive Ad Slot

Resensi : Ada Bom di Masjid

Tidak ada komentar

Senin, 22 Desember 2014

Judul Buku : Ada Bom di Masjid

Penulis        : Hermawan Suci

Penerbit      : Eduvision Publishing

Tebal Buku : 282 halaman

Ada bom di masjid ? pertama saya baca judulnya, maka pikiran saya langsung melayang pada kejadian bom bunuh diri yang pernah terjadi di masjid polres Cirebon. Karena penulisnya berasal dari Cirebon, maka saya pikir dia terinspirasi dengan kejadian itu. Tapi, ternyata buku ini menawarkan pemahaman konsep mengenai manajemen resiko. Mungkin pada awal membacanya, pembaca akan dibuat bingung dengan latar belakang dan pendahuluan yang mungkin menurut saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan judulnya.

Penulis buku mencoba untuk memaparkan mengenai pemahaman manajemen resiko dengan caranya tersendiri. Novel ini memberikan gambaran mengenai manajemen resiko dalam bentuk dialog yang interaktif. Ninu, dan Yuki menjadi tokoh penting dalam novel ini. Ninu merupakan pemuda yang  mengaku sebagai anak kuliahan, dan nge-kost di sebuah desa yang tidak jauh dari pusat kota. Di desa itulah Ninu akhirnya bertemu dengan Yuki yaitu seorang gadis desa yang polos dan cantik, Yuki juga aktif dalam kegiatan masjid. Konflik berawal ketika Ninu mulai menyukai Yuki yang ternyata sudah dijodohkan oleh anak seorang Kyai yang bernama Rohman. Semakin Yuki mengenal Ninu, maka perasaan cinta mulai tumbuh di hati Yuki. Hubungan Ninu dan Yuki ternyata tidak disetujui oleh Ayah Yuki, karena menganggap Ninu merupakan pemuda yang tidak jelas asal-usulnya. Lalu, sebenarnya siapakah Ninu ? benarkah dia seorang mahasiswa ?  lalu apa hubungannya dengan ‘bom’ ?

Novel yang memberikan sebuah pemahaman teori manajemen resiko, dan dikemas dalam cerita cinta para remaja yang penuh dengan konflik, serta dibumbui dengan cinta segitiga atau mungkin lebih tepatnya cinta segiempat. Novel ini tidak hanya memberikan hiburan dengan lakon para tokohnya, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang manajemen resiko. Karena novel ini lebih menggunakan bahasa yang interaktif (dialog) bukan dengan naratif, maka setiap kalimatnya dapat dipahami dengan mudah. Tapi dari itu semua, ternyata masih banyak pemborosan kata dan pengulangan kata dalam kalimat. Kalimat yang terlalu panjang (tanpa koma) dapat membuat pembaca kesusahan karena tidak tau harus berhenti di mana, padahal jika ingin diperingkas lagi maka akan jauh lebih enak untuk dibacanya. Manusia tidak pernah bisa lepas dari yang namanya resiko, karena setiap tindakan yang diambil oleh manusia pasti mengandung resiko. Manusia mempunyai pilihan dan cara untuk memilih mana resiko yang paling kecil dari sebuah tindakan yang dilakukannya. Lalu, cara seperti apa untuk mengatur dan mengambil resiko tersebut ? jawabannya ada di buku ini.

Kementerian Keuangan RI Sosialisasikan MEA di Unswagati Cirebon

Tidak ada komentar

Minggu, 21 Desember 2014

Unswagati - SetaraNews.com, Dalam rangka menyambut Asean Economic Community (AEC)  2015 Kementerian Keuangan Republik Indonesia mengadakan sosialisasi tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN di Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati  Cirebon.

Sosialisasi ini lebih ke arah akuntansi yang turut dihadiri lebih dari 100 peserta dari mahasiswa jurusan akuntansi dan manajemen.  Acara yang bertemakan “Sosialisasi arah regulasi profesi di bidang akuntansi dalam menyongsong asean economic community 2015” ini dimulai dari pukul 09:00 hingga 17:00.

“Acara ini dadakan, soalnya surat dari kementeriannya baru datang 18 desember, jadi kita persiapannya hanya 2 hari.” Ujar Fahmi Saepul selaku ketua panitia saat ditanya mengenai proses persiapannya tentang acara tersebut Sabtu kemarin (20/12).

Meski persiapan acara hanya dua hari, tapi tidak mengurangi antusiasme mahasiswa yang terbukti dari kuota yang disediakan pihak panitia yang seharusnya untuk 100 peserta tapi malah melebihi kuota.

“Buat wawasan nambah pengetahuan karena bentar lagi menghadapi Asean Economic Community.” ujar Wawan mahasiswa manajemen. selaku peserta

 
Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews