Responsive Ad Slot

Terbaru

latest

Essai: Revokasi Mental

Rabu, 28 Mei 2014

/ by BW

REVOKASI MENTAL
Oleh : Bakhrul Amal


Ada satu yang hilang dari negeriku
Tak seperti dahulu saling bersatu
Ada yang t'lah berubah dari bangsaku
Hilangnya kasih sayang itu menyakitkanku
(Indonesia Unite - Rindu Bersatu)


Jika, Romo Benny dan Ir. Joko Widodo punya “Revolusi Mental” sebagai jargon apiknya, maka saya, yang saat ini duduk dan berpikir di bawah awan-awan mendung Kota Cirebon, Kota dimana katanya proklamasi pertama kali diucapkan, menggagas suatu pergerakan yang mana saya sebut dengan “Revokasi Mental”. Bukan bermaksud menandingi, bukan pula sengaja untuk menunjukan tendensi penuh perlawanan, akan tetapi, ini hanyalah sebuah ide dan gagasan tentang dari mana kita memulai.


Dulu, jauh sebelum kemerdekaan kita capai dan kita dengungkan, kita telah menjadi saksi bersama bahwa mental kita jauh di atas Belanda dan bangsa eropa. Seorang pakar dari UI bahkan mengatakan, kita tidak pernah dijajah, kita hanya terus berjuang dan akhirnya berhasil mengusir Belanda yang mencoba menguasai kita. Tentu, ketika tawaran mindset baru memahami perjuangan ini disodorkan pada kita, kita pasti sepakat.


Perjalanan berlanjut, dunia seketika berubah, bom atom menghantam dua kota besar di Jepang. Berita itu hadir ke seantero dunia. Kita, yang pada waktu itu sedang sibuk mencari strategi kemerdekaan, akhirnya mendapatkan momentumnya. Jalan Pegangsaan Timur No. 56 langsung ramai, bendera merah putih hasil jahitan Fatmawati pun berkibar terhempas angin. Dengan gagah berani, seorang pria berkopeah hitam berpakaian parlente berdiri tegak menghadap mic, ya, Soekarno akhirnya menyatakan bahwa Bangsa Indonesia telah merdeka !!


Entah, bagaimana bentuk dan suka cita itu dirasakan oleh jutaan masyarakat Indonesia saat itu. Saya hanya dapat melihat foto-foto senyum, hanya sekedar menyangsikan gambaran tentang kereta api yang penuh sesak oleh manusia-manusia, teriakan MERDEKA ! MERDEKA ! pun berkumandang saling berebut keras bak adzan pemanggil sholat.


Sudah sewajarnya, sebagai Negara baru yang mengikrarkan dirinya sebagai Negara merdeka, Indonesia mulai mengurusi kehidupannya sendiri. Semua di-Nasionalisasi, semua serba di Indonesiakan. Dan ketika itu, semua bangga, semua merasa gagah dengan produknya sendiri, semua seolah mengatakan seperti apa yang Soekarno katakan “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."


Segala hal yang ada di dunia ini mungkin bisa dihentikan. Usain Bolt yang kencang, ketika lelah pun dia duduk dan berhenti. Ferari dan Yamaha yang menjadi andalan dunia otomotif-pun perlu istirahat ketika kehabisan bensin. Tetapi ada satu yang tidak bisa dihentikan, satu itu yang menentukan, satu itu yang orang barat menyebutnya dengan uang, satu itu adalah waktu.


Hingar bingar kejayaan Soekarno akhirnya runtuh juga. Sosialisme, saat itu, dinilai menemukan jalan buntunya. Oleh karena sebab ketegasan keluar dari PBB, Games of the New Emerging Forces atau GANEFO diciptakan sebagai tandingannya. Keuangan jatuh, PKI tumbuh pesat dan akhirnya ujung dari tajamnya pedang menusuk pemerintahan Soekarno. Lewat tragedi SUPERSEMAR, Soeharto dengan kepala tegak menjadi bapak baru dari jutaan rakyat Indonesia menggantikan Soekarno.


Babak baru sejarah perjalan Indonesia dimulai. Titik keberangkatan yang dimulai dari kesejahteraan merata dan Nasionalisme, berubah menjadi pembangun. Jembatan dibangun, gedung dibangun semua dibangun, bahkan polisi, sebagai representasi dari manusia, pun dibangun menjadi patung. Tidak heran apabila kemudian banyak yang menyebut Soeharto adalah bapak ‘Pembangunan Indonesia’.


Awalanya, mungkin, era baru ini membawa suatu cahaya cerah. Namun, seperti apa yang dikatakan oleh Marx, bahwa semua sistem (tidak hanya kapitalisme) akan menunjukan wajah aslinya ketika terpuruk, tenyata benar. Kegentingan sedikit demi sedikit muncul, rasa bosan akan “itu-itu saja foto presidennya” pun sempat terngiang. Era yang kadang intelektualis menyebutnya dengan diktator pun muncul. Semua yang menentang dibredel, semua yang mengganggu diberangus. Selamat datang dalam nuansa baru perubahan mental Indonesia.


Diskusi-diskusi sunyi mulai digalakan, poster-poster mini tentang propaganda perubahan kepemimpinan ditulis, segala hal yang bersifat kudeta dijadikan gaya hidup. Akhirnya, usaha-usaha keras yang sembunyi itu membuahkan hasil. Jutaan mahasiswa dan rakyat Indonesia berkumpul menjadi satu menduduki DPR. Bendera-bendera dikibarkan dan nyanyian-nyanyian rakyat didendangkan, penantian lama itu hadir juga, Soeharto secara jantan menyatakan mundur !!


Jika ada yang berkata bahwa, sejauh apapun orang melangkah pastinya akan lelah juga, mungkin inilah titik dimana kelelahan itu muncul. Orang yang lelah, biasanya membutuhkan hiburan, dininabobokan oleh dongeng-dongeng indah pengantar tidur, merasa nyaman ketika dimanjakan. Tidak terkecuali rakyat Indonesia, jatuhnya Soeharto, gerbang pintu baru dibuka. Gerbang kenyamanan itu bernama REFORMASI.


Tidak ada lagi kekang mengekang, tidak ada lagi ikat dan saling mengintai, semua, dibiarkan terbuka dan bebas untuk mengaktualisasikan pendapatnya. Dan perwujudan masa-masa baru ini, dibarengi dengan kemajuan tekhnologi yang juga sedang begitu pesatnya. Maka jadilah, sebuah keadaan evolusi yang beranjak total dan jauh, evolusi yang merubah kertas-kertas buram menjadi asturo-asturo berwarna-warni dengan coraknya yang menyebalkan.


Kebebasan, mungkin itulah wakil dari kata-kata lain yang maknanya mungkin sama, hanya bentuk dan istilahnya saja berbeda berbagai bahasa. Setiap individu dinilai memiliki kewenangan sendiri untuk menentukan dirinya, tidak ada yang tanpa tedeng aling-aling bisa melarangnya. Mengangggu maka tangkap, melukai sedikit saja tahan, dan mereparasi tindak-tanduk yang sifatnya diri sendiri bisa dikatakan kekerasan.
Inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini mulai kehilangan wacana awalnya.


Dulu, bangsa ini dibangun bersama, untuk bersama, dalam apa yang disebut oleh UU dengan kekeluargaan. Keluarga itu, sekarang, mulai tak jelas lagi mana ayah dan ibunya, siapa anak dan siapa orang tuanya, semua seenaknya sendiri-sendiri. Ikatan emosional pun hilang, semangat berjuang dan berdarah-darah bersama membangun rumah besar Indonesia juga tidak tercipta lagi.


Kita tidak perlu memulai, tidak pula hendak mencari model apa yang tepat, tetapi kita, sudah saatnya melakukan penarikan kembali mental-mental masa lalu kita. Kita hanya sedikit berusaha, untuk sama-sama menoleh kembali ke belakang, mengembalikan kebersamaan masa lalu kita. Kita punguti puing-puing masa lalu berdikari, kita rangkai kembali kalimat gotong royong.


Sewaktu kecil, saat semua masih begitu intim, saya masih sering melihat bapak dan ibu bersama tetangga-tetangga sekitar membangun rumah bersama, jembatan dan gorong-gorong pengairan. Hajatan kecil menjadi suatu yang mewah karena seluruh masyarakat sekitarnya hadir berebut cepat memberi sumbangsih. Bareng-bareng menunggu mayat dan menangisi bersama orang sebelah rumah yang meninggal adalah hal yang biasa.


Namun saat ini, saat cuaca ekstrim mulai datang terus-menerus, saat semua berebut cepat ingin terkenal, antara satu dengan lainya pun tak kenal. Bahkan tetangga di depan rumah saja tak tahu siapa nama dan kapan hari ulang tahunnya. Saking tidak pedulinya, teroris dengan lihai mengumpat di tengah keramaian pun tak tercium bau busuknya.


Jeder, barulah, setelah media mengangkat, kita akhirnya tahu, siapa itu dan siapa ini. Toeng, ketika seorang tokoh ngetweet barulah informasi itu sampai ke telinga dan otak kita. Kita bahkan lebih malu ketika tidak tahu Michel Jackson meninggal, ketimbang merasa bersalah ketika tak tahu imam masjid, yang menjadi tetangga kita sendiri, meregang nyawa dalam kesederhanaan.


Bukan perkara ekonomi, bukan perkara politik tanpa bukti, bukan juga karena hukum yang tidak ditegakan sebagaimana mestinya, tetapi perkara mental kita yang berubah. Sudah saatnya, kita me-revokasi mental kita, berjuang bersama seperti dulu dengan mulai saling mengenal, bergandengan tangan, mengamini kembali konsep Tat Twam Asi (kamu adalah aku, aku adalah kamu). Konsep ini tidak termakan zaman, tidak perduli kapan dan di era apa saja kita hidup, konsep ini tetap menyemai dan hidup.


Jika kita telah berhasil melakukan penarikan kembali mental masa lalu kita, maka, bukan hanya asing (seperti VOC, Belanda, Amerika, CIA dll), tetapi musuh di dalam diri kita sendiri pun bisa kita hancurkan seperti dulu. Bangkitlah Indonesia, bangkit !


Alangkah indahnya, bila revokasi mental ini kita tutup dengan puisi hasil buah tangan putra terbaik Indonesia, Soekarno :


Aku Melihat Indonesia
Jika aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar lautan Indonesia bergelora
Membanting di pantai Ngeliyep itu
Aku mendengar lagu – sajak Indonesia

Jikalau aku melihat
Sawah menguning menghijau
Aku tidak melihat lagi
Batang padi menguning – menghijau
Aku melihat Indonesia

Jika aku melihat gunung-gungung
Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu
Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet
Dan gunung-gunung yang lain
Aku melihat Indonesia

Jikalau aku mendengar pangkur palaran
Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia

Jika aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia

Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa
Dengan mata yang bersinar-sinar
(berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia!
Penulis adalah Mahasiswa Magister (S2) Kenotariatan Universitas Dipenogoro dan Peneliti pada Stjipto Rahardjo Institute, asal Kasepuhan Cirebon.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© all rights reserved
made with by setaranews